Rabu, 01 Juni 2011

[FANFICTION] JUST BECAUSE THE SEASONS "#2 LOVELY WINTER"


Author : only jetsskii

Categories : Series

Disclaimer : Second part of Just Because the seasons! Just my imagination, enjoyed it!!

Cast : Jung Jinyoung from B1A4 as Jin and Jung Jinyoung, Yang Jihyo, Haewon X5  as  Haewon, CNU  from B1A4 as Woo


-------------------------------------------------------
Jihyo’s house, 07.30
“Hyo!!! Ireona! Hyo! Palli ireona!” teriak seseorang diluar kamar.

“Ne ahjumma! Ara ara!” jawabku dengan mata masih tertutup. “Mwo? Ehm mimpi apa aku semalam? Ah aku benar-benar lupa.” Gumamku sambil beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.

“Awww … sejak kapan kakiku sakit? Arrgghh jangan-jangan aku tidur sambil ngelantur!!” rutuk ku kesal dengan kakiku yg sakit.

Selesai berpakaian, aku bergegas berangkat menuju kampusku pagi ini. Ya, tentu aku harus berjalan kaki dengan jarak yg cukup jauh untuk bisa mencapai halte bus. Tapi gerak langkah kakiku terhenti saat aku menyadari bahwa seseorang mengikutiku. Ah apa mungkin hanya perasaanku saja. Ku percepat langkahku dan sampai di halte bus. Ternyata benar, seorang pria mengikutiku. Dari kejauhan bisa kulihat dia berjalan menuju halte. Tapi untunglah bus datang, dan dia sama sekali tak mengikutiku sampai bus.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“LOVELY WINTER”

Brrr … kutepuk-tepukan kedua tanganku, kulangkahkan hati-hati kakiku di salju yg mulai menebal sambil berlarak-lirik keseluruh sudut di hadapanku. Pandanganku terus tertuju pada suasana musim dingin yg sedang menerpa kota Seoul. Biasanya kuliah pun dimulai 1 jam lebih siang dari biasanya. Itu sebabnya, pagi ini aku menyempatkan diri ketempat itu. Tempat dimana aku dan kakak laki-lakiku sering menghabiskan waktu.
“Omo! Saljunya menutupi tempat duduk!” gumamku ketika melihat tumpukan salju di tempat duduk sebuah halte yg sudah tidak terpakai. Suasana disini masih sama seperti beberapa tahun yg lalu. Tetap tenang dan jalan ini jarang dilewati kendaraan karena biasanya salju di daerah ini lebih tebal dari salju di tempat yg lain. Suasana disini benar-benar membuatku nyaman. Angin-angin yg bertiup tenang membuat hatiku benar-benar lepas dari penat yg selama ini membuatku sesak. Ku pejamkan kedua mataku. Mulai menyusun kembali kenangan-kenangan yg hampir kulupakan dari musim dingin tahun lalu. “Sudah hampir 1 tahun aku tak mengunjungi tempat ini. Semenjak Yoseob oppa pergi ke Inggris melanjutkan kuliah! Aaahh aku merasa sendiri …” gumamku pada diriku sendiri. Tak kusangka seseorang berjalan mendekat ke tempatku duduk saat ini. Menepuk pundakku, menyapaku, dan entah kenapa rasanya pertemuan ini bukan yg pertama kalinya.

“Kau sendirian?” tanyanya padaku. Kumiringkan kepalaku dan sedikit meninggikan alis mataku seaakan bertanya siapa dia? Apa kita pernah bertemu? Dan tentu saja itu tanpa berbicara, jadi bagaimana dia bisa menjawab pertanyaanku itu. “Ah, maaf aku membuatmu ketakutan. Aku mengikutimu saat pagi 2 hari yg lalu. Aku minta maaf!!” Ternyata aku salah, karena sepertinya barusan dia menjawab semua pertanyaan yg aku tahu hanya otak dan hatikulah yg mendengar nya. Dia tersenyum seakan telah mengenalku sejak lama, dan aku tahu aku pun merasa tak ada yg aneh dengan tatapannya padaku itu.

“Mwo? Naega? Ah, ne aku sendiri. Ehm, jadi dulu kau yg mengikutiku?” tanyaku padanya. Tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, sedikit heran. Dia menatapku lekat-lekat. Dan inilah puncaknya aku merasa tidak nyaman. Seakan sesuatu telah membuat jantungku berhenti berdetak, kenapa ini.

“Kau … yang jihyo! Kau tak ingat padaku?” tanyanya lagi. Dan sekarang wajahnya berubah speechless. Seakan dia mencoba untuk tidak frustasi dengan apa yg akan ku katakan.

“Ke .. ke.. napa kau tahu namaku?” tanyaku pelan-pelan dan ragu.

“Kau … benar-benar tak ingat aku?” sekarang wajahnya benar-benar sedih dan bingung seakan aku telah meminjam sesuatu yg berharga darinya dan aku menghilangkannya. Tak hanya wajahnya yg bingung, kadang-kadang dia sering bergumam sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku benar-benar bingung denganya saat ini. Sebenarnya siapa dia?

“Chakkaman, sebenarnya kau ini siapa? Apa aku mengenalmu?” tanyaku lagi. Kali ini sedikit memaksa. Tapi tak kusangka respon yg kudapatkan adalah sebuah pelukan. Jujur saja, sepertinya pelukan ini memang sudah tidak asing, tapi aku benar-benar risih dibuatnya. “Ya le .. pass kan akuu .. ugh!” kataku sambil mendorongnya melepaskan pelukan. Aku benar-benar tidak dapat berpikir lagi. Ku dorong tubuhnya menjauh. Aku tak peduli akan doronganku yg membuatnya terhempas ke bangku halte. Sekarang aku hanya berlari berusaha meninggalkannya yg membuatku benar-benar takut sekaligus heran. “Siapa dia?” gumamku pada diriku sendiri seakan tak mengindahkan semua yg kulewati sampai-sampai seseorang menyapaku pun tak ku hiraukan.

“Jihyo?” tak ada jawaban dariku. “Jihyo-ssi??” tanyanya lagi dan kali ini berhasil membuat ku tersadar dari dunia yg hampir membuatku gila tadi.

“Haewon-subae? Oh annyeong!” sapaku sedikit salah tingkah karena dia memergokiku dalam keadaan seperti ini. Tentu saja salah tingkah. Dia adalah sunbae yg sering membuatku tak bisa tidur dan membuat jantungku hampir berhenti berdegup jika dia tersenyum.

“Ya jihyo, apa kau sakit?” tanyanya. Spontan aku tersenyum karena tak menyangka jika Haewon-sunbae akan bertanya hal itu padaku. “Ini musim dingin, jadi kau harus menjaga diri. Jangan sampai kau sakit.” Lagi-lagi dia membuatku lemas. Tak menyangka dia akan berkata seperti itu sekali lagi. Dan aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk menahan rasa gugup yg benar-benar membuatku lemas.

“Gwenchana sunbae! Aku hanya .. hanya .. itu sedang mencari seseorang!” jawabku bingung dan gugup. Aku merutuki diriku sendiri atas kebodohan yg telah aku perbuat tadi. Bisa-bisa nya aku gugup sampai tak tahu harus berkata apa didepan seseorang yg aku sukai.
“Kau mencari Hanbyul? Sepertinya tadi dia jg mencari mu!” katanya dengan senyumnya yg hampir membunuhku.

“Ah, ne. iya aku .. ehm aku mencari hanbyul. Ya sudah sunbae, aku pergi dulu. Annyeong.” Kataku sedikit gugup lalu melambaikan tangan dan pergi menjauh dari sosok jangkung yg benar-benar membuat hariku menjadi lebih baik sekarang. Ku hembuskan nafas panjang dan berat menatap langit-langit ruang music yg sedang sepi ini. Hanya ada aku, grandpiano dan alat music lain yg telah tertata rapi. Sambil melamun kutekan tuts piano dengan satu jari telunjukku memaminkan nada do terus menerus. Entah kenapa kali ini pikiranku melayang ke kejadian tadi pagi. Aku yakin orang yg tadi itu sudah tak asing bagiku. Matanya, senyumnya, sepertinya memang sering kulihat. Tapi kapan? Kenapa aku tidak ingat?

----------------------------------------

Hari ini akhir minggu ketiga di bulan Desember. Tentu saja hari ini weekend. Tak ada kuliah, tak ada aktivitas lain selain berjalan-jalan disekitar Seoul dan berbelanja di mall dan supermarket-supermarket dekat. Mencuci mata, sesekali menjernihkan otak. Tapi, seseorang benar-benar menggangguku. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan orang yg mengikutiku dan memelukku di halte dulu. Tak ada matinya dia menemuiku hanya ingin membuatku ingat padanya. Aku sama sekali tak amnesia dan tak perlu mengingat apapun lagi, mungkin. Karena aku yakin kepalaku sama sekali tak terbentur apapun. Tak mungkin ingatanku hilang begitu saja. Apalagi aku termasuk orang yg sulit melupakan sesuatu atau mungkin ingatanku sangat bagus. Mana mungkin aku melupakan hal sekecil itu. Kecil? Entahlah.

“Chakkaman!!” panggilnya. Aku semakin mempercepat langkahku sedikit berlari menjauhinya. Mencoba berlindung dibalik keramaian pasar siang di pinggir kota Seoul. Tak ku acuhkan panggilan yg menyerukan nama lengkapku itu. Tatapanku terpaku pada jalan-jalan sempit yg kulalui sehingga sesekali menyenggol seseorang dihadapanku. Dan tanpa sedikitpun berhenti dan menoleh aku ucapkan kata maaf pada orang yg ku senggol itu, sampai seseorang menarik tanganku. “Ya jebal! Dengarkan aku dulu Hyo-ah!” katanya.

“Hyo-ah?” batinku. Kenapa sepertinya orang ini sering sekali memanggilku dengan nama kecilku itu? Lagi-lagi hatiku meracau. Sebenarnya siapa dia itu. Kepalaku benar-benar pusing.

“Jebal, apakah tak ada sedikit pun yg kau ingat tentang aku? Sedikit pun??” katanya lagi sambil menekan perkataannya pada kata ‘sedikit pun’. Aku tak mengerti kenapa aku harus mengingatnya walau sedikit pun. Sebenarnya siapa aku baginya sampai dia berusaha mengingatkan sesuatu yg sama sekali tak terbersit sedikitpun di dalam ingatanku.

------------------------------

*Someone POV*

“Dia tak mengingatku? Kenapa?” batinku. Pantas saja dewa langit tak memberiku izin mengatakan identitasku sampai dia sendiri yg mengingatku. Aku tak tahu jika mengingatkan seseorang itu sangat berat. Bagaimana mungkin ini bisa kulakukan. Aku benar-benar tak tahan. Apalagi aku harus menunggunya ingat tanpa memberikannya clue sedikit pun? Ini gila.

*Someone POV end*

--------------------------------

“Bisakah kau melepaskanku? Jebal. Aku benar-benar tak mengenalmu. Mungkin kau salah orang!” kataku. Mataku sedikit berkaca-kaca. Kugigit bibir bawahku pelan menahan jatuhnya butir-butir air mata yg bergulir dipelupuk mataku. Perlahan genggaman tangannya meringan dan meregang. Kulihat ada raut frustasi yg besar dalam matanya. Dan kini aku tak dapat menahan air mataku lagi. “Kau jangan mengikutiku lagi. Jebal. Aku benar-benar muak!” kataku sedikit terisak. Kali ini aku tak tahu bahwa seseorang juga melihat kejadian ini dengan sedikit emosi. Haewon-sunbae. Dia melihatnya. Aku sama sekali tak menyangka apa yg akan dia lakukan sekarang. Mendorong orang yg mengikutiku sampai dia melepaskan tangannya dariku.

“Jauhi jihyo! Kau ini hanya mengganggunya!” katanya sedikit kasar. Tapi, kenapa rasanya aku benar-benar tak tega. Kenapa aku merasakan sesuatu. Aku tak rela seseorang berbicara kasar pada nya, tapi aku malah mengatakan padanya untuk menjauhiku. Bukankah itu sangat aneh. Kenapa, ada apa dengan otakku. Kenapa aku tak bisa berpikir rasional.

Buuukk … kepalan tangan kuat milik Haewon-sunbae melayang tepat di pipi orang yg mengikutiku itu. Darah segar keluar dari mulutnya. Semua orang disana memperhatikan kami dengan cemas, risih, kaget, bahkan takut. Aku pun ketakutan. Apa yg dilakukan Haewon-sunbae.

“Sunbae, hentikan!! Uljimma!” kataku sedikit berteriak dan hampir menangis. Orang itu memperhatikanku dan tersenyum. Hanya itu sebelum kesadarannya mulai goyah ditanganku. “Mwo? Ya ireona!” kataku panic. “Sunbae bantu aku.” Pintaku pada Haewon-sunbae yg masih berdiri kesal, namun akhirnya membantu ku membopongnya ke sebuah restoran kecil yg sepi. “Ya, ireona!” panggilku lirih sambil menepuk-nepuk pipinya.

“Jihyo, lebih baik kita pergi. Nanti dia malah besar kepala kalau kau masih tetap disini. Nanti .. dia kira kau memberinya kesempatan.” Katanya. Hening sejenak. Tak ada jawaban apapun dariku karena pikiran dan hatiku masih tertuju pada pria dihadapanku yg sedang terbaring lemas. “Ayo lah! Akan ku antar kau pulang!” kata haewon-sunbae lagi sambil menarik tanganku.

“Shirho!” kataku menghempaskan tangan sedikit berteriak. Menatapnya tajam dan kesal.

“Wae?”  tanyanya.

“Kau jahat sunbae! Aku benci padamu!” jawabku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah lain. Yg penting mataku tak bertatapan dengan matanya.

“Waeyo? Apa karena aku memukulnya? Itu salahnya, Jihyo! Dia yg mencoba menyakitimu!” belanya. Harusnya aku tersanjung mendengar perkataannya. Tapi entah kenapa rasanya perasaanku pada Haewon-sunbae hilang hanya dengan satu pukulan tadi.

“Kau tidak mengerti, Sunbae! Aku tak suka kekerasan. Kau benar-benar .. aarrgghh aku benci padamu!” kataku setengah berteriak.

“Benci? Bukannya kau menyukaiku?” tanyanya sedikit menggombal. Tapi itu tak memperngaruhiku sama sekali. “Aku tau itu, Jihyo. Aku tau kau selalu diam-diam menjadi pemuja rahasiaku.” Katanya sombong.

“Ini bukan waktu yg tepat membicarakan hal itu, Sunbae!” kataku datar. Masih tidak mau menatapnya. “Dan satu lagi. Sekarang aku benar-benar tau kau itu seperti apa. Dan aku membencimu.” Kataku lantang. Aku tak tahu kenapa aku bisa berbicara seperti itu. Tapi apa yg Haewon-sunbae katakana tadi memang benar. Aku menyukainya. Tapi sekarang perasaanku memudar dengan cepat.

“Apa?” katanya seakan tak percaya.

“Pergi.” Kataku tegas. “Pergi sebelum aku berteriak dan bilang pada orang-orang bahwa kau akan menyakitiku. PERGI!!!” kataku lagi dan kali ini dengan sedikit emosi. Haewon-sunbae pergi dengan kesal sambil membanting pintu restoran sedikit keras. Pemilik restoran yg melihat kejadian itu hanya melongo heran. Berkali-kali kuucapkan maaf sambil sedikit membungkukkan badan. Kutatap lagi pria yg sedang terbaring lemas itu. Kenapa sepertinya ini pernah terjadi. Luka? Perlahan kusentuh luka itu dengan jari telunjukku. Sesekali aku meringis padahal sama sekali tak merasakan sakit. Tapi, tiba-tiba kepalaku pusing. Sesuatu tiba-tiba menjalar di otakku. Aku mengingat sesuatu. Tapi apa? Semuanya samar-samar. Mataku tertuju pada luka di sudut bibir pria itu. Dan bayangan itu muncul lagi. Sekarang lebih jelas. Bisa kulihat sebuah luka. Luka itu … itu pada sayap. Hitam pekat. Sayap. “Argghh kepalaku pusing!” gumamku pada diriku sendiri. Tapi ternyata si pemilik restoran mendengarnya.

“Gwenchana Agassi?” tanyanya. Tapi aku hanya mengangguk menandakan aku baik-baik saja. Kini aku benar-benar bingung. Apa sebenarnya yg kulihat tadi.

“Argghh … “ rintih pria itu pelan tersadarkan dari pingsannya.

“Gwenchana?” tanyaku khawatir.

“Hyo-ah? Kau masih disini?” dia malah balik bertanya kepadaku dengan heran.

“Ah, itu. Tentu saja. Ehm .. maafkan temanku. Ehm .. ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanyaku. Tapi sepertinya dia bingung untuk menjawabnya.

-----------------------------

*Someone POV*

“bagaimana ini? Dia bertanya namaku. Apa yg harus aku katakan?” batinku. Sekarang aku benar-benar bingung harus menjawabnya dengan bagaimana. Tapi aku senang. Dia tak lagi terlihat ketakutan. Mungkin ini awal yg baik untuk mengingatkannya dengan perlahan. Semoga saja. Tapi bagaimana aku memberitahukan namaku?

*Someone POV end*

---------------------------------

“Apa kau mendengarku?” tanyaku lagi. Sepertinya dia baru tersadar dari lamunannya. “Jadi aku harus memanggilmu apa?” tanyaku lagi.

“Panggil saja aku oppa.” Jawabnya.

“kenapa harus oppa? Yah, maksudku, aku tau kau lebih tua dariku. Tapi aku bertanya namamu.” Jawabku makin heran.

“Untuk sementara, panggil saja aku oppa. Jebal.” Katanya. Aku hanya mengangguk kecil. Tapi sebenarnya aku masih bingung dengan nya. Benar-benar orang aneh.

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Ahjumma pasti bingung mencariku. Handphoneku juga low batt. Annyeong!” kataku akhirnya kemudian mebungkukan badan dan pergi.

“Chakkaman!” paggil nya.

“Ne … ehm .. oppa?” tanyaku. Entah kenapa aku memaggilnya seperti itu. Padahal tadi sama sekali tak berniat dan tak tertarik.

“aku akan terus membuatmu ingat padaku!” lanjutnya kemudian tersenyum. Aku hanya membalas senyumnya dengan halis terangkat dan senyum bingung. Setelah itu, kulangkahkan kakiku pergi. Aku bingung, kenapa aku bisa tersenyum menyutujui apa yg dia katakan. Meski aku tau sebenarnya senyumku itu adalah maksud dari kebingungan yg aku alami, tapi kenapa aku tak mengelak tadi. Jujur saja, aku penasaran dengan bayangan kabur yg tadi sempat terbersit di otakku. Luka, sayap hitam pekat, apa maksudnya.

-----------------------------------------------

Hari ini hari Kamis. Aku selalu membencinya karena hari ini dosen yg paling kubenci akan masuk ke kelas. Tapi ternyata aku salah. Kamis ini, dosen itu sakit. Kelas dibubarkan. Sebagian dari kami memilih pulang dan meneruskan kembali tidurnya. Suasana dingin winter kali ini memang sangat mendukung untuk menghabiskan waktu dirumah dengan menambah waktu tidur. Tapi aku sepertinya tak tertarik dan lebih memilih menghabiskan waktuku di halte tak terpakai itu. Hujan salju kecil yg sejak pagi menerpa kota seoul menambah sensasi dingin siang ini. Kepulan asap putih mengepul seiring dengan hembusan nafas ku. Ku rebahkan tubuhku di kursi halte dan menutup mata seperti biasa. Hanya ada suara angin dan nafasku sendiri. Sampai suara sesorang memecah keheningan itu.

“Sudah kuduga kau akan datang kesini.” Ucapnya. Perlahan ku buka mataku dan menoleh kesumber suara. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya. Reaksinya sama sekali tak kuduga. Dia malah melongo melihatku tersenyum seperti itu.

“kenapa, oppa?” tanyaku. Dia hanya menjawabku dengan senyuman. Kemudian kembali memandang pemandangan di depan kami. Matanya lurus meski sesekali menatapku dan tersenyum.

“Aku, aku tau kalau kau sulit mengingatku, tapi … aku mohon ingat lah aku. … ingatlah aku!” Katanya pelan. Aku tahu nadanya terkesan pasrah. Tapi sepertinya ada senyum kepercayaan dia matanya. Apa mungkin aku akan mengingatnya. Tapi apa yg perlu aku ingat?

“Oppa!” panggilku memecah lamuan kami masng-masing.

“Mwo?” jawabnya singkat sambil melihat kearahku.

“Coba katakan padaku. Apa yg harus aku ingat?” tanyaku penuh harap.

“Tentu saja tentang aku. Tentang kita, dan hidupku yg tergantung di tanganmu.” Jawabnya yg membuatku sangat heran sekarang. Sekarang keadaan berubah menjadi hening. Nafasku dan nafasnya saling bersahut-sahutan. Indah! Tak terasa senyum kecil mengembang di sudut bibirku.

------------------------------------

“Kita mau kemana?” tanyaku pada, sebut saja ‘oppa’ yg mengajakku pergi kesebuah taman luas. Sekarang dihadapanku haya ada danau yg airnya membeku, sebuah pohon yg tertutup salju. Ayun-ayunan yg juga tertutup salju, serta arena permainan anak yg tak terpakai. “kenapa kesini?” tanyaku lagi.

“Entahlah!” jawabnya. “Aku juga tak tahu kenapa mengajakmu kesini. Hahaha ..” lanjutnya sambil tertawa sumbang yg sebenarnya seperti dipaksakan. Aku hanya mengangguk kemudian kembali ke aktifitasku mengagumi tempat yg ada dihadapan mataku. Sampai seseorang yg ku panggil ‘oppa’ itu pergi menjauh sebentar. Entah dia mau pergi kemana. Tapi aku sama sekali tak tertarik mengikutinya. Jadi lebih baik aku menyejukkan mataku disekitar taman ini saja.

----------------------------------

*Someone POV*

Kenapa tiba-tiba suara Woo datang? Dasar bodoh. Dia benar-benar mengganggu. Apa yg ingin dia katakan padaku sampai menyuruhku menjauh dari gadis itu. “Ya, apa yg ingin kau katakan padaku!” kataku sedikit berteriak sambil melihat kesekelilingku yg sebenarnya sama sekali tak ada siapapun.

“I’m here Jin! Hahaha ..” sosok putih yg baru saja muncul tersenyum dengan sayap putihnya yg dipamerkan padaku.

“Jangan tertawa kau! Kau ini mengganggu!” jawabku ketus padanya sambil melipatkan kedua tanganku didepan dada. Tapi pandangannya berubah serius sekarang. Sebenarnya apa yg harus aku dengar sampai dia jauh-jauh datang ke bumi.

“Jin …, waktumu sebentar lagi.” Katanya pelan. Apa maksudnya? Dia sebenarnya akan berkata apa?

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Kau sudah hampir 3 minggu di bumi. Dan sekarang adalah hari yg tersisa. Bukankah kau sudah janji, jika dalam 3 minggu dia tidak memintamu terus disampingnya menjadi manusia, maka …” katanya terpotong seperti bingung ingin mengatakan apa.

“Apa? Lanjutkan!” pintaku.

“Maka hidupmu sebagai manusia akan dicabut dan kau juga tak bisa menjadi malaikat lagi. Kau … dibuang. Dan aku tak ingin itu Jin! Bagaimana pun kau manusia pertama yg akan aku tangani. Dan kau jg temanku, tidak, kau sudah ku anggap saudaraku sendiri. Jadi, cepatlah buat dia ingat. Satu lagi, waktumu hanya sampai jam 3 sore hari ini. Setelah itu, kau akan terbang seperti angin.” Jelasnya. kemudian dia tiba-tiba memudar dan hilang dalam sekejap. Apa yg harus aku lakukan? Jam 3? Itu hanya tinggal 3 jam lagi? Tidak … aku tak boleh seperti ini. Berikan aku kesempatan!! Biarkan aku disampingnya.

“Someone POV end*

------------------------------------

“Oppa? Kemana saja kau?” tanyaku kesal. Dia hanya tersenyum bingung. Sebenarnya dia kenapa? Dasar makhluk aneh! Oppss … makhluk aneh? Kenapa sepertinya aku sering mengatakan itu.

“Mianhae! Sekarang kita mau pergi kemana? Kau mau aku antar kemana, Hyo?” tanyanya sedikit memaksakan tersenyum walau terlihat masam tapi di tetap terlihat tampan. Tampan? Jangan bilang aku menyukai pria ini. Oh God!

“Aku mau …” kata-kataku terpotong ketika melihat mukanya berubah pucat. Kenapa aku merasa dia terlihat semakin kacau. Dia sangat kusam, tak bercahaya tak seperti tadi. Kenapa? “Oppa, apa kau sakit? Mukamu pucat.” Spontan aku menyentuh pipinya. Tapi dia kaget dan mundur menjauh. Kenapa seperti ini? Bukankah dulu dia yg memelukku duluan, kenapa ketika aku menyentuhnya sedikit saja dia malah menjauh, aneh!

“Hyo … bisakah kau mengingatku sekarang?” pintanya. Kenapa tiba-tiba dia berkata begitu. Kenapa ekspresi bingungnya semakin menjadi-jadi. Aku ingin membantunya jika aku bisa. Tapi bagaimana.

“Apa aku perlu memukul kepalaku? Seingatku jika seseorang amnesia, biasanya mereka akan ingat kembali kalau dipukul. Sebentar aku cari …” sekarang kata-kataku terpotong lagi.

“Michoso? Itu hanya melukaimu. Jebal. Aku tak mau kau menyakiti dirimu sendiri. Tapi cobalah ingat aku. Meskipun waktunya sangat sempit.” Potongnya. Kenapa dia berkata seakan-akan hanya hari ini saja waktu yg tersisa untuknya bersamaku. Tidak, sepertinya aku merasa waktu yg tersisa hanya detik-detik ini saja. God, bantu aku!

“Jebal … jebal …” sekarang tubuhnya terjatuh ditanah seaakan bersujud memohon didepanku. Perlahan dia mulai frustasi. Dia gelisah. Sesekali melirik jam ditangannya. Sudah 2 jam berlalu. Tapi sama sekali belum ada perubahan. Maksudku padaku, aku tidak merasakan mengingat apapun lagi. Tapi muka pucatnya bertambah pucat. Bibirnya pucat. Pucat? Bibir? Tiba-tiba sesuatu seperti terbersit di dalam otakku. Wajah seseorang memenuhi pikiranku. Samar-samar. Tapi bibirnya pucat. Luka, sayap hitam pekat? Muncul lagi. Muncul lagi ditambah bibir pucat dan wajah seseorang yg pucat. Kepalaku sakit mengingatnya. Tapi aku harus berusaha. Ingat …, ayo lah ingat!

“Pucat …” gumamku pada diri sendiri. Sekarang aku menatap wajahnya lekat-lekat. Kenapa sepertinya hatiku sakit melihatnya seperti ini. Jika aku ingat, apa dia akan tertolong? Sekarang kedua tangannya merapat, menutupi sebagian hidung dan bibirnya seakan sedang memohon padaku. Sudut matanya menunjukan sesuatu yg membuatku makin sakit. Air mata. Matanya terpejam, wajahnya frustasi, matanya menangis. Oke, sekarang bayangan itu muncul lagi. Dan sekarang aku berkutat pada pikiran ku sendiri. Wajah itu mulai muncul. Sayapnya yg hitam pekat, luka, tiba-tiba asap muncul, luka itu sembuh, mata seseorang yg menangis! Wajah itu, itu oppa! “Jin …” terbersit nama itu dalam ingatanku. Jin? Wajahnya sekarang terlihat jelas tersenyum, kearah … kearah ku! Jin? My dream? My guardian angel?
“Jin …?” gumamku. Sepertinya ‘oppa’ tak mendengarku. Kulangkahkan kakiku, membungkukan badanku sedikit lalu mengusap air mata pria itu. Seprtinya dia kaget, namun hanya bisa diam. “Jin …” panggilku.

“Hyo-ah? Kau ingat aku?” tanyanya. Seulas senyuman tergambar di sudut bibirnya. Tangannya menyentuh tanganku yg mengusap air mata di pipinya. Aku hanya tersenyum. “Jinca? … tuhan!!” panggilnya. Dia terlihat senang. Lalu memelukku erat. Aku balas pelukannya. Ya … aku menginngatnya.

--------------------------------

Pukul 14.45 …
“Benarkah kau ingat aku?” tanyanya.

“Aku hanya ingat mukamu yg menyedihkan!” candaku sambil tersenyum.

“Benarkah? Haha … apa aku begitu menyedihkan menginginkan kau mengingatku?” tanyanya lagi. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan dan tersenyum. Sekarang kami bertatapan. Matanya benar-benar membuatku sejuk. Tapi, perlahan wajahnya mendekat. Tangannya menyentuh daguku seakan mencoba mendekatkan wajahku padanya dan aku tak menolak. Aku mengikutinya meskipun dengan hati yg gugup dan tegang. Sekarang jarak kami benar-benar dekat. Bisa kurasakan hembusan nafasnya diwajahku. Matanya tiba-tiba menutup. Wajahnya semakin dekat, dan …

“Heuk ..” wajahnya terhenti mendengar suara itu. Matanya terbuka dan heran. “Heuk …” lagi-lagi suara itu terdengar.

“Mwo? Kau cekukan?” katanya padaku lalu tertawa. Wajahku memerah. Ah, kenapa harus disaat seperti ini? “Apa kau benar-benar gugup?” candanya. Aku hanya bisa memukul pundaknya pelan lalu pura-pura marah dan cemberut. “Arraseo. Aku akan membuatmu berhenti cekukan.” Itu kata-kata terakhirnya sebelum tangannya menyentuh pipiku dan mencium bibirku lembut. Aku menutup mataku mengikutinya. Sesekali membalas ciumannya lembut. Dan membiarkan diriku terhanyut. Sekarang dia melepaskan ciumannya dan tersenyum manis ke arahku. Entah bagaimana keadaan wajahku sekarang. Mungkin saja pipiku sudah semerah tomat busuk, atau mungkin wajahku terlihat bodoh. Tapi jujur saja. Aku benar-benar merasa dunia ini milik kami berdua sekarang. Dan aku membalas senyumnya lalu memeluknya erat.

“Hyo-ah!” panggilnya disela-sela pelukanku.

“Hmm?” tanyaku lalu melepaskan pelukan.

“Apa aku boleh terus disampingmu?” pintanya. Keningku mengerut lalu tersenyum.

“Tentu saja. Kau harus tanggung jawab. Tak mungkin kau membiarkan hatiku kosong dan bingung! Makanya kau harus disini bersamaku.” Jawabku dengan nada dibuat seperti sedang meminta pertanggung jawaban atas kesalahan seseorang. Dan dia haya tertawa pelan lalu mengecup keningku.

“Baiklah, kita lihat 5 menit lagi!” katanya. Aku hanya menatapnya heran.
5 menit berlalu, dan tak terjadi apapun. Dia benar-benar kembali dengan wajahnya semula, tak pucat dan … tampan. Dia tersenyum. Memelukku dengan sebelah tangan sambil menatap langit. Lalu berkata seolah seseorang melihatnya dari atas. Dan dia kembali tersenyum. Begitupun denganku yg terlelap dalam pelukannya.

------------------------------------

“kau butuh nama Jin!” kataku sambil sedikit merengek. Ini sudah memasuki akihr musim dingin. Tapi suasananya masih tetap dingin sekali seakan tak ada tanda-tanda akan munculnya musim semi.

“Lalu jin itu apa? Itu juga nama!” katanya sedikit cemberut.

“Masa cuman satu kata! Gak bagus banget!” jawabku sambil terus merengek.

“Baiklah, kau yg putuskan!” katanya tersenyum padaku. Spontan senyumku mengembang.

“Geureom! Bagaimana kalau … Jung Jinyoung? Sepertinya cocok untuk mu!” katanya kemudian menyandarkan kepalaku manja di bahunya.

“Bagus juga! Baiklah, mulai besok namaku Jung Jinyoung.” Katanya tersenyum. “Tapi … tetaplah panggil aku Jin. Aku lebih menyukai itu!” pintanya padaku. Aku hanya mengangguk. Lalu dia memelukku dan kami saling memejamkan mata kemudian terlelap di bangku taman itu.

Inilah kenapa musim dingin selalu menjadi musim yg paling indah bagiku. Karena pada musim ini, semua kebahagian muncul tiba-tiba, menyebabkan semua musim yg akan datag menjadi indah …


To be Continued ...
--------------------------------
Next ---> "Slowly Love That Spring"

2 komentar:

  1. woooooooy ane datang mengkomen ahahahaha
    ayooo Sandeul-Reeki mana weeeeh

    BalasHapus
  2. Minggu depan sblm UKK kayaknye!! Just wait okay!! XD

    BalasHapus