==================================================
Reeki’s house 07.30 *Reeki’s POV*
“Apa-apaan ini. Aku tidur sampai pukul 07.30. untung saja hari ini di sekolah sedang bazaar, jadi aku tidak terlambat!” rutukku kesal. Setelah mandi dan bersiap pergi, aku pamit dan melesat dengan kedua kakiku berlari mengejar bus terakhir di pagi ini. “jangan sampai aku terlambat” gumamku di sela-sela lari. Tepat sekali, saat aku sampai, bus pun datang. “Ow, my lucky day!” batinku tersenyum. Ku langkahkan kakiku ke dalam bus yg terlihat hampir penuh. Tanpa ragu ku masukan tiga buah koin pada kotak di depanku, kemudian kupandang sekelilingku dan menemukan tempat duduk startegis agar perjalananku terasa nyaman. Lamunan demi lamunan membuatku terhanyut sampai tersentak dengan apa yg aku fikirkan sendiri. “Loh, aku mimpi apa semalam? Ah tapi rasanya itu seperti nyata!!” gumamku. Dan tak terasa bus ku sudah sampai di depan halte pinggir sekolahku. “Ramai!!” rutukku kesal. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. “Nugu?” tanyaku. Dia hanya membalas dengan senyuman. Tapi entah kenapa rasanya aku mengenalnya dekat sekali.
*Reeki’s POV end*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“SLOWLY LOVE THAT SPRING”
Langit tampak begitu cerah. Tampak matahari tersenyum indah siang ini. Tapi tidak dengan suasana hatiku. Aku selalu membenci musim semi. Itu karena musim ini bunga-bunga bermekaran, serbuknya pun terbawa terbang oleh angin yg selalu hilir mudik. Aku benci bunga, apalagi serbuk bunga. Itu hanya membuat hidungku gatal. Jatuhnya aku akan sakit flu atau alergi. Ku tatap jendela kaca dari tempatku termenung sekarang. Tatapanku tampak kosong. Sekitarku pun sepi. Tentu saja, semua orang sibuk dengan stand masing-masing di bazaar. Dan aku tak pernah tertarik untuk itu. Aku lebih memilih menyendiri di kelas yg sepi dari pada harus bergerumun dengan keramaian. Tapi mataku tertuju pada pintu gerbang. Seseorang menarik perhatianku. Dia tampak linglung mencari seseorang. Kusipitkan mataku untuk mempertajam penglihatan. Sepertinya aku tau orang itu siapa. Dia laki-laki yg menepuk pundakku tadi pagi. “Hah, orang aneh.” Gumamku sambil menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata dan terlelap.
*Someone (boy) POV*
“Mwo? Tempat ini ramai, tapi kenapa aku sama sekali tak melihatnya!” gumamku pelan. Kutebarkan pandanganku ke setiap sudut dihadapanku. Mencoba mencari sosok gadis keras kepala yg ku kenal itu. Kadang, aku sering menahan tawa dan tersenyum sesekali ketika mengingat tingkahnya yg aneh tapi lucu. Dia kadang-kadang terlihat kekanak-kanakan, egois, dan tak mau mengalah. Tapi itu, itu lah yg aku cari darinya. Lamunanku buyar setelah datang sesosok laki-laki ke hadapanku.
“Nuguya? Tanyanya.
“Ah ne?” aku malah balik bertanya.
“Do! Nuguya?” tanyanya lagi datar.
“Ah, Choneun ….” Kata-kataku terhenti. Aku baru ingat, selama 3 minggu di bumi, aku tak boleh mengatakan identitasku. Jadi apa yg harus aku lakukan. Membuat identitas baru? Sepertinya aku harus bertanya pada hyung. “Ah ani, aku hanya melihat-lihat. Kalau begitu. Gomawo.” Kataku lalu pergi meninggalkan sekolah itu. Kulangkahkan kakiku ke sebuah taman dengan pohon yg cukup lebat, mungkin sedikit bisa disebut hutan di pinggir kota. Karena kurasa sepi, disini lah aku mencoba memanggil seseorang. “Hyungie …” kataku pelan sambil menekan-nekan tombol tengkorak pada layar sebuah benda, yah bisa dibilang seperti sebuah hp. “Ya! Aku baru ingat, aku tak bisa memanggil seenaknya!” sekarang aku benar-benar frustasi. Siapa yg harus aku mintai tolong soal seperti ini. Tapi, tiba-tiba saja, angin kencang datang menerpa wajahku. Tampak sosok laki-laki jangkung memakai kacamata dan terlihat agak kesal di depanku.
“Waeyo?” katanya dengan nada ketus. Aku hanya cengar-cengir melihatnya. Sudah pasti dia kesal padaku karena mengganggu hari santainya sebagai ‘Scheduller’ semacam guardian angel atau malaikat pencabut nyawa. Ini tugasnya yg kedua setelah membantu Jin hyung. Dan dia pasti sangat sebal karena sebenarnya hari ini dia sama sekali tak ada jadwal untuk membantuku atau dia sedang liburan.
“Mianhae hyung” kataku sambil merengek kecil didepannya kemudian tersenyum memperlihatkan gigi depanku seperti tidak bersalah.
“Ya! Ada apa sebenarnya?” tanyanya lagi, sekarang dengan raut muka penasaran.
“Aku mau bertanya, sebenarnya apa aku boleh memakai identitas lain sebelum dia mengingatku?” tanyaku berharap.
“Hmm? Sebenarnya bisa! Tapi …, ah terserah mu. Yg penting kau tidak mengatakan identitas aslimu sebelum dia ingat sendiri. Arraseo?” jawabnya. Aku hanya mengangguk pelan. “Tapi … aku pikir, akan lebih mudah jika kau tak menggunakan identitas ke dua. Nanti dia bisa bingung!” lanjut. Aku hanya terus mengangguk tak menyadari apa yg dia katakan sampai pikiranku buyar dan aku tercengang. Tapi dia sama sekali sudah tak ada di hadapanku. Dia menghilang! Dan sekarang aku bingung lagi.
*Someone (boy) POV end*
-----------------------------------------------
Jam pulang kali ini terasa tidak berarti, toh sejak pagi aku tak melakukan apa-apa kecuali menatap langit kebiruaan yg sedang cerah di musim semi ini. Kakiku melangkah malas sambil sesekali menendang batu-batu kecil yg tak sengaja ada dihadapanku. Tapi mataku menangkap seseorang yg sudah tak asing lagi. Sekarang dia sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Kaget, senang dan tak percaya. Seulas senyum tersirat di bibirku. Kemudian tanpa sadar kakiku berlari kearahnya dan memeluk tubuhnya erat. “Dujun oppa …” panggilku pada laki-laki yg sekarang sedang memelukku erat. “Bogoshippo!” ucapku kemudian melepaskan pelukanku dan tersenyum kearahnya.
“Nado. Ya, kenapa mukamu kusut begitu. Hih!” katanya sambil melihatku lekat-lekat. Aku hanya cemberut manja dihadapannya.
“Kau sendiri, kenapa kau tak bilang kau mau pulang?” tanyaku dengan nada marah yg dibuat-buat.
“Surprise …” jawabnya singkat dan kemudian mengecup keningku sayang. Aku hanya tersenyum. Lalu mengikuti ajakannya masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kawasan sekolah.
*Someone (boy) POV*
Aku kembali ke dekat gerbang. Saat itu aku yakin sekolah telah bubar. Ini saatnya. Aku akan berkenalan denganya sesuai dengan aturan. Normal tanpa pemaksaan. Ku lihat sosoknya berjalan sambil sesekali menendang batu dihadapannya. Tapi langkahnya terhenti, dan seketika dia tersenyum manis tanpa mengalihkan pandangannya dari … seorang laki-laki di sebrangnya. Dia berlari kehadapan laki-laki itu dan memeluknya. Kemudian mereka berbincang dan aku tak tau apa yg mereka bicarakan. Tiba-tiba saja laki-laki itu mengecup keningnya lembut. Kemudian mereka pergi meninggalkan kawasan sekolah. Deg … jantungku tiba-tiba saja sakit. Ada satu hal yg membuat hatiku mengganjal seperti ini. Apa kesempatanku hilang?? Jangan sampai.
----------------------------------------------------
Ku langkahkan kakiku gontai. Sekarang aku tak tau harus bagaimana. Tapi aku baru ingat, aku tak punya uang sama sekali untuk melanjutkan hidup dibumi. Sekilas kulihat sebuah kafe kecil didekat taman. Bersyukur, sebuah kertas tertempel rapi di depan pintu membuat senyum sumringah di bibirku. Ku langkahkan ragu kakiku ke dalam. Kucium bau khas kopi yg membuat perutku berseru riang. Ku pandang semua sudut di kafe itu. Dan memberanikan diri untuk menemui manager kafe. Yakin tidak yakin. Tapi semua saja aku bisa mendapat pekerjaan.
*Someone (boy) POV end*
--------------------------------------------------------
Ku tatap jalan yg dilalui mobil ini sambil tersenyum sesekali. Suara music memutar lagu favoritku Only one menggema dalam mobil. Sesekali ku tatap lekat-lekat seseorang di kursi pengemudi kemudian memalingkan mukaku kembali memandang jalan.
“Ya! Bagaimana sekolahmu?” Tanya seseorang disampingku memulai pembicaraan.
“Nothing special. Wae?” jawabku.
“Ani, kenapa kau tak ikut pindah saja ke Jepang. Disini kau terlihat kesepian.” Katanya tanpa memandangku dan tetap focus pada jalanan.
“Shireo. Aku tak kesepian. Kau lihat, sampai sekarang aku masih bisa hidup.” Kataku lalu menjulurkan lidah pelan. Dia hanya tertawa melihatku. Spontan aku jg ikut tertawa bersamanya.
“Baiklah. Kau memang adik yg keras kepala.” Katanya lalu mengacak rambutku pelan dan kemudian melanjutkan konsentrasinya menyetir. 10 menit berlalu. Kini kami tengah sampai di rumah. Melihat kedua orang tuaku juga ada disana membuatku benar-benar bahagia. Musim semi kali ini, setidaknya ada saat yg bisa aku lewatkan bersama keluargaku.
-----------------------------------------------
Hari ini minggu. Biasanya pagi-pagi begini aku selalu menghabiskan waktu di kafe dengan laptop dan secangkir vanilla latte. Tapi karena aku terlambat bangun, jadi aku baru bisa merealisasikan kebiasaanku itu pukul 11 siang ini. Kutenteng tas laptop lengkap dengan charger dan seperangkat keperluan lainnya. Kususuri jalan-jalan kecil yg bisa disebut jalan pintas menuju ke kafe favoritku itu. Senyumku merekah setelah tempat yg kutuju mulai terlihat. Kumasuki pintu dengan riang. Tapi langkahku terhenti melihat sosok didepanku. Dia menoleh dan terlihat kaget sama sepertiku. Hanya saja ..
“Sandeul-aa!!” panggil seseorang dari arah dapur.
“Ne!” dia pergi dengan canggung. Aku tak peduli lalu duduk ditempat favoritku. Menatap kedepan sebentar lalu menyalakan laptop. Semua pegawai di kafe ini sudah benar-benar tau denganku. Jadi mereka menyediakan tempat khusus colokan listrik di samping bangku favoritku yg hanya bisa aku temukan sendiri.
“Silahkan.” Kata seseorag, spontan aku menoleh.
“Oh, kau. Ehm .. kenapa bukan Haera-ssi yg mengantarkan cangkir ini?” tanyaku.
“Oh, Haera-ssi sedang sibuk di dapur, jadi aku diminta mngantarkan ini padamu.” Aku hanya tersenyum, sekilas ku baca tanda pengenal di dadanya. Tertera tulisan ‘sandeul’ nama yg aneh. Aku baru mendengar nama seaneh itu di Korea.
“Hmm .. jadi.. kau ..” aku melambatkan sedikit kata-kataku memancingnya memperkenalkan diri padaku. Dan berhasil.
“Oh, choneun Sandeul imnida. Bangaptseumnida. Aku pegawai baru disini.” Jelasnya.
“pegawai baru? Ehm .. ngomong-ngomong, apa kita pernah bertemu?” tanyaku karena sepertinya mukanya sungguh familiar dimataku.
*Sandeul POV*
“Mwo? Dia bertanya padaku? Tersenyum?” batinku senang.
“pegawai baru? Ehm .. ngomong-ngomong, apa kita pernah bertemu?” tanyanya padaku. Spontan aku sedikit kaget. Tapi aku bisa menguasai keadaan.
“Mungkin tidak.” Jawabku. Kenapa aku tiba-tiba malah berbohong. Aku benar-benar kaget dengan apa yg aku ucapkan sendiri. Tapi dia hanya tersenyum lalu melanjutkan aktivitasnya lagi memandangi laptop hijau kesayangannya. Dan aku benar-benar terhanyut dengan pemandangan indah di depan mataku itu.
*Sandeul POV end*
-----------------------------------
1 jam berlalu. Aku masih sibuk dengan laptop didepanku. Masih berkomat-kamit agar download-an yg sedang berjalan bisa selesai dengan cepat. Hari ini aku harus men-download MV baru FT Island boyband favorite ku. Aku tak mungkin melewatkan penampilan drummer chubby yg sangat menggoda iman itu. Sesekali kulirik jam melihat sudah berapa lama aku terduduk di bangku ini. Kemudian tanganku meraba cangkir di sebelah kiri laptop tanpa memandangnya. Kudekatkan ujung cangkir ke bibirku. Tapi nihil, tak ada air yg masuk ke mulutku. Untuk memastikan ku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan memang sudah tak ada isinya. “Haera-ssi! Bisakah aku pesan latte lagi?” kataku sedikit berteriak. Tapi tak ada respon. “Juan-ssi? Atau siapa saja, bisakah aku pesan latte lagi?” sekarang sedikit berteriak.
“Kau mau pesan vanilla latte lagi agashi?” Tanya pelayan yg bernama Sandeul itu.
“O, bisa?” tanyaku.
“Ah, ne. Aku akan minta Juan-ssi membuatkannya. Nanti akan ku antar.” Jawabnya ramah. 15 menit kemudian dia keluar. Raut wajahnya Nampak kecewa dan sedikit ketakutan. Aku hanya mengenyitkan dahi memandangnya membawa sebuah cangkir putih yg aku tahu kalau itu adalah latte pesananku. “Waeyo, sandeul-ssi? Kenapa sepertinya kau ragu memberikan cangkir itu padaku?” tanyaku heran.
“Aniyo. Ehmm agashi, aku minta maaf, tapi sebenarnya ini latte buatanku.” Katanya ragu. Aku hanya memiringkan kepala heran.
“So, why?” kataku.
“Ini.” Jawabnya sambil menyodorkan cangkir latte itu di dekat laptopku.
“jangan bilang ini pertama kalinya kau membuat latte.”
“O. itu … itu memang .. ah begitulah.” Jawabnya dengan menyunggingkan senyum yg kurasa membuat jantungku meleleh kali ini. Tunggu, apa yg kupikirkan. Jantungku meleleh. Apa yg terjadi. Ah, yg benar saja. Ku hirup vanilla latte dalam cangkirku pelan. Lidahku terasa asing dengar campuran vanilla dan kopi yg mengalun lembut di dalam lidahku. Tapi itu membuat sensasi baru yg mencengangkan. Entah kenapa aku merasa aku akan selalu mengingat, menyukai bahkan merindukan vanilla latte ini. Seperti ada bentuk ketulusan yg hendak disampaikan pembuatnya melalui secangkir latte ini.
“Waa! Nomu mashitta!! Apa benar ini pertama kalinya kau membuat latte? Kenapa sepertinya kau sudah mahir sekali. Ini enak!!!” kataku. Dia haya tersenyum puas mendengarnya.
*Sandeul POV*
“Waa! Nomu mashitta!! Apa benar ini pertama kalinya kau membuat latte? Kenapa sepertinya kau sadah mahir sekali. Ini enak!!!” dia menyukainya. Aku senang. Sebenarnya membuat latte bukanlah yg pertama kalinya bagiku. Di bumi mungkin iya. Tapi dulu, selama aku menyelesaikan skripsi pendidikan malaikatku, aku sempat mendapat seorang manusia yg pintar membuat latte. Kadang-kadang aku sering mempraktekannya meskipun aku tau, yg aku buat akan terlihat seperti angin saja bagi manusia. Sampai saat ini aku masih hafal betul bagian dan takaran dalam membuat vanilla latte itu. Dan latte nyata pertamaku itu adalah hasil dari mengikuti semua aturan yg ku lihat serta menambahkan bumbu penting yaitu cinta dan perasaan senang untuk membuat orang yg meneguk lattemu bahagia. Dan aku senang itu berhasil. Setidaknya latte itu sedikit mewakili ungkapan perasaanku pada gadis ini.
*Sandeul POV end*
-----------------------------------------------------
2 minggu berlalu. Entah kenapa perlahan aku senang dengan cuaca musim semi yg cerah ini. Mood ku selalu membaik ketika aku ingat tak semua kenangan musim semiku buruk tahun ini. Buktinya selama 2 minggu ini aku menemukan seseorang yg mampu membuatku menjadi damai dan merasa nyaman. Aku tahu, waktu kami bertemu terbilang baru sebentar. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan dia tahu tentangku lebih dari diriku sendiri. Bahkan dia tahu bagaimana caranya membuat aku tersenyum bahkan terbahak-bahak sampai aku terguling dari kursi seperti minggu lalu. Aku sendiri heran kenapa aku bisa membiarkan image ku runtuh begitu saja didepan laki-laki itu.
“Ya, Reeki! Kenapa melamun?” panggil laki-laki yg memang sedang berada dalam pikiranku itu.
“Sandeul-ah! Aniyo. Aku hanya sedang memikirkan kopi apa yg akan aku racik sendiri.” Jawabku sedikit berbohong. Sedikit, tak sepenuhnya. Karena hari ini kami memang akan mengunjungi tempat peracikan kopi. Sudah seminggu ini aku tiba-tiba tertarik untuk meracik kopi. Sandeul mengajarkanku beberapa. Ternyata dia memang ahli meracik kopi entah menjadi coffee biasa atau pun coffee-coffee ala barat atau macam-macam latte.
“Baiklah … aku hanya punya waktu sampai jam 3 sore nanti.” Jawabnya datar tapi dengan mata menerawang. Aku hanya menatapnya bingung. Baru kali ini aku melihat raut gelisah dimatanya. Tapi suara klakson mobil mengagetkanku yg sedari tadi duduk menunggu di bangku pinggir jalan yg hampir seperti halte ini.
“Mwo? Dujunie-oppa?” panggilku senang. Sandeul sedikit bingung mendengarnya. Matanya mengikuti ke arah mataku melihat sekarang. Matanya menyipit seakan memfokuskan pandangan agar tidak salah lihat. Begitupun denganku. Silaunya matahari seoul pagi ini membuat mataku sedikit terganggu.
“Reeki-ah. Nuguya?” Tanya dujun-oppa saat tepat berada di depan kami berdua.
“Oo? Ini Sandeul. Sandeul ini Dujun-oppa.” Kataku memeperkenalkan mereka.
“Annyeong sandeul-ssi. Kau mau mengajak Reeki kemana?” Tanya Dujun-oppa dengan nada seakan dia marah sandeul mengajakku pergi. Aku tau sebenarnya Dujun-oppa hanya menggoda saja. Karena aku sudah bilang pada kalau hari ini kami akan pergi ke peracikan kopi.
“Mianhamnida, hyung. Aku akan mengajak Reeki ke peracikan kopi. Tapi jika kau keberatan, kau bisa ikut dengan kami.” Jawab sandeul seperti tidak enak.
“Kenapa aku harus ikut?” Tanya Dujun-oppa memasang tampang bloonnya yg 180derajat membuatku ingin memukulnya dengan tas yg ku gendong sekarang.
“Hah? Hyung kan pacar Reeki, jadi aku takut ada kesalah pahaman dan …”
“Mwoya? Pacar? Dia?? Sandeul-aaaaaaa …” kataku memotong pembicaraanya. Suara tawa terdengar menggelegar disampingku. Dujun-oppa dengan enaknya tertawa terbahak-bahak mendengar apa yg sandeul katakan. Aku hanya mendengus kesal melihat tingkahnya. Dasar tidak sopan. Tapi sandeul sepertinya bingung sekali dengan keadaan yg terjadi.
“ha .. ha .. oke. Jadi kau, Sandeul! Kau menyangka aku pacar bocah ingusan di sampingku ini? Hahaha” Tanya Dujun-oppa sambil mengatur nafasnya dan menahan tawa. “Aku ini Yoon Dujun. Yoon ..” sambungnya lagi sambil menekan dan melambat pada bagian kata yoon.
“Dia oppaku Sandeul. Kakak kandungku!” hal yg sama jg aku lakukan pada kalimat ‘kakak kandungku’ itu. Tak ada jawaban apapun dari Sandeul. Hanya sebuah senyum kecil serta anggukan ringan yg dia berikan.
“Ya Sudah! Bersenang-senang lah. Dan jangan buat adikku menangis. Hahaha” ancam dujun-oppa pada Sandeul. Dan lagi-lagi dibalas anggukan kecil.
“Huh, sana cepat pergi. Kau ini hama pengganggu.” Seruku pada dujun-oppa lalu mendorongnya pelan memasuki mobil hitam didepan kami.
“Baiklah. Hati-hati!” ucapnya lalu melesat dengan mobil hitam dan menghilang dari pelupuk mata dengan seketika.
“Aku .. aku malu sekali.” Gumam Sandeul dengan suara sekecil mungkin tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku malah terkekeh dan merangkul tangannya spontan karena bus yg akan kami tumpangi telah datang.
------------------------------------------------------------
“Oohh .. kenapa tidak sampai-sampai.” Keluhku saat kami mulai menaiki bebatuan. Sebenarnya ketika Sandeul mengatakan tempat peracikan kopi itu ada di tengah hutan, aku sedikit tidak peduli. Bagiku saat itu adalah ingin menyaksikan langsung chef-chef pembuat koki (apa deh gak tau namanya) yg memang ahli menggerak-gerakan tangannya meracik kopi special. Tapi aku tak menyangka kejadiannya akan menjadi seperti ini. Sadeul sendiri lupa akan rute jalan yg biasa dia lalui. Apa-apaan dia. Benar-benar tidak bisa diandalkan.
*Sandeul POV*
Aku lupa. Benar-benar lupa. Dulu ketika aku datang ke tempat ini, aku kan sedang menjadi guardian angel. Jadi, aku tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat itu. Ah, aku merasa bersalah sekali pada reeki. Gadis ini benar-benar sudah kelelahan mencari tempat itu.
“Reeki-ah. Kita duduk dulu disini.” Pintaku. Aku tau dia lelah, dan aku pun jg lelah. Menjadi manusia ternyata cepat lelah, berbeda saat aku masih menjadi malaikat. Tapi kata Jin Hyung, ini lah yg membuat sensasi berbeda menjadi manusia. Sensasi ini yg ingin ku pertahankan. Karena aku menyukainya. Ku liat jam ditanganku menunjukan pukul 2.30 WSI (waktu saat itu xP) itu tandanya waktu ku hanya 30 menit lagi. Aku pesimis jika sensasi baru ini masih bisa aku pertahankan.
*Sandeul POV end*
-----------------------------------
Kusandarkan tubuhku pada pohon besar rindang yg menutupi cahaya matahari siang ini. Sudah pukul 2.30. berapa lama aku harus mencari tempat itu. Kutatap wajah laki-laki di sebelahku berniat menyalahkannya atas kejadian ini. Tapi raut wajahnya yg bingung dan resah membuatku mengurungkan niatku itu dan malah asyik memperhatikan setiap lekuk dari wajahnya yg terbilang tampan, tidak sangat tampan mungkin. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku pun ikut tersenyum. Suasana berdua seperti ini membuatku merasa ingat sesuatu. Tapi aku tak tau itu apa. Otakku terus berjalan memutar waktu. Menelusuri seluruh lorong memori mencoba mencari sesuatu yg ingin aku ketahui. Samar-samar aku melihat gua, aku berada di dalamnya, dan gelap. “Apa yg kulihat?” gumamku pada diriku sendiri.
“Waeyo?” tanya Sandeul khawatir.
“aniyo. Gwenchana!!” jawabku berbohong. Tapi sepertinya Sandeul tak percaya dan tetap menatapku lekat dengan mata penasaran. “Wae? Aku hanya lelah!” jawabku.
“Apa yg kau lihat?” Kali ini Sandeul berbicara aneh. Raut wajah frustasi tersirat di wajahnya. Tapi kenapa, kenapa tiba-tiba aku merasa wajahnya sedikit memudar. Memudar? Aku merasakan sesuatu muncul di dalam otakku.
“Ada gua, dan aku di dalamnya. Guanya gelap.” Tanpa sadar aku bercerita kepadanya.
“Bagus. Waktumu tinggal 15 menit. Mulailah mengingat.” Kata Sandeul antusias. kenapa sekarang dia jadi lebih mirip host acara kuis yg memberitahu kalau waktuku untuk menebak jawaban kuis sudah habis.
“Waktu untuk apa?” tanyaku penasaran. Tapi dia sama sekali tak menjawab dan malah menatap kosong kedepan. Hatiku tergerak untuk mencoba mengingat sesuatu. Tapi aku kan tidak lupa apapun. Mungkin sebaiknya aku mencari memori tersembunyi tentang gua itu di kepalaku. Karena memang sepertinya aku pernah mendatangi gua ini. Waktu sepertinya berjalan sia-sia. Tapi aku melihat muka Sandeul semakin pucat. Sebenarnya kenapa dia??
“Sebentar lagi … aku harus pergi!” katanya datar tanpa memandangku.
“APA?? Kau mau meninggalkanku disini? Sendiri?” kataku berteriak tak percaya. Dia hanya diam. Tak memandangku. Laki-laki bodoh ini? “Kau benar-benar akan meninggalkanku? Kau tak akan bisa.” Kataku lalu merangkul tangannya erat dan tak mau melepaskannya. Lagi-lagi dia hanya diam. Tapi kenapa tangannya begitu dingin. Mukanya pucat. “Sandeul-aa apa yg terjadi?” tanyaku panik.
“Aku harus pergi. Waktuku telah habis.” Katanya lalu hening. “Aku senang bersamamu walaupun hanya beberapa minggu ini. Itu sangat berarti.” Katanya lalu tersenyum tipis dan terlihat sangat tulus. Aku mencoba ber-positive thinking. Mungkin Sandeul hanya bercanda. Mungkin dia hanya ingin mengerjaiku. Biasanya kan begitu.
“Jangan bercanda deh. Tak mempan.” Candaku sambil tertawa sendiri. Tapi tak ada respon dan hanya hening yg ada dan tawa sumbangku yg terdengar dipaksakan.
“Sudah waktunya.” Ucapnya.
“Apa, tunggu Sandeul-aa, tapi … tapi … aku … aku ingin pipis.” Kataku dan berhasil membuat Sandeul memalingkan wajahnya melihatku dan terkikik pelan.
“Disini tak ada .. WC .. uhm ..” Sandeul melambatkan kalilmatnya dan seakan membuatku ingat sesuatu. Tidak hanya sedikit, anehnya otakku berputar sangat cepat dan aku ingat mimpiku itu. Mimpiku bersama malaikat yg … menciumku? Aku mendongakkan kepalaku menatap mata sipit Sandeul dengan tajam.
“Aku … Kau … Pipis … WC …? Ini … Aku ingat ini semua ada di mimpiku.” Kataku sambil mash tidak mempercayai apa yg aku ingat sekarang.
“Apa kau ingat aku?” Tanya Sandeul semakin membuatku terpuruk.
“aku tau wajahmu, tapi aku tak ingat namamu, dan sepertinya itu bukan Sandeul.” Kataku lirih. Sadeul menghembuskan nafas panjang.
“Ini memang konsekuensi karena aku memakai nama ganda.” Ucapnya semakin membuatku tak mengerti.
“Sandeul … sandeul … sayap .. uhmm ..One? Wan? …HWAN?”kataku kaget setelah berhasil mengingat sesuatu lagi. “Kau??? Iya kau Hwan bukan? Nama mu hwan? Malaikat terkutuk itu?” sandeul hanya mengangkat sebelah alis matanya dan tersenyum.
“Apa aku terlihat tetap seperti malaikat?”tanyanya lagi. Aku hanya mendecak jengkel tapi senang mendengarnya. Dia menyentuh kedua pipiku dan menatapku lekat. “Kau sudah ingat aku. Terima kasih.” Ucapnya. Apa dia tau jantungku seperti terkoyak-koyak ditiup badai besar? Tapi kurasa tangannya tak sedingin tadi. Malah sepertinya sekarang sekujur tubuhkulah yg berubah dingin. Wajah Sandeul mulai mendekat .. lama-lama matanya menutup. Aku sigap memundurkan wajahku dan sepertinya membuat Sandeul mengurungkan niatnya dan malah mengecup manis keningku. Dia tersenyum, dan aku pun membalas senyumnya lalu memeluknya erat.
-----------------------------------------------------
“Jadi, kau tau jalan pulang?” tanyaku jengkel.
“Ehmm … itu … ehm .. tidak.” Jawabnya polos.
“Jadi mau sampai kapan kita disini?? Ini sudah hampir sore!!!” rengekku.
“Hmmm … sampai maut memisahkan kita.” Jawab Sandeul sekenanya dan plak, jitakan kecil mendarat di kepalanya. Dia terlihat kesakitan tapi seakan-akan itu dibuat-buat dan aku hanya tersenyum melihat kekasihku ini.
“aku tak mau selamanya bersamamu tau. Aku mau pulang.” Kataku sambil menjulurkan lidahku ke depan mukanya sebal.
“Ehmmm … Reeki, Kita yg lupa atau memang kita tulalit yah? … kenapa kau tidak telepon saja. Kita minta bantuan. Toh disini selalu ada sinyal.” Aku benar-benar shock dibuatnya. Dia benar, kenapa tidak menelepon bantuan saja. Oh ya Tuhan kenapa tiba-tiba aku menjadi bodoh begini. Sandeul hanya tersenyum dan tetap memandangku yg sibuk menekan layar hp ku dan menelepon seseorang. Menyebalkan.
------------------------------------------------
“Namaku Sandeul saja?”
“Jangan, itu aneh. Hwan bin saja? Atau Min Hwan? Atau Jung Hwan? Ah Jung hwan, itu bagus. Aku suka nama itu.”
“Baiklah, Junghwan. Biar aku yg memilih margaku.”
“Lee saja. Lee Junghwan lebih bagus.
“As your wish.”
Itu kata terakhir yg dia ucapkan kemudian mencium pipiku lembut, dan aku balas menciumnya dan kami tertidur pulas di sebuah mobil terbuka yg menampakan indahnya langit musim semi malam ini. Dan ini satu lagi yg membuat musim semi kali ini terasa berbeda. Johwaseo!!
===============================
Huuaaaaa ... nan jeongmal mianhaeyo... FF nya gaje gak nih vid?? sorry bgt kalo gaje. mentok pisan ideku liat muka si Sandeul /plak. heheh .. Comment ya ...
*dan tidak diperkenankan adanya plagiarism karena negara dan agama jg melarangnya. so, kalo mau copy FF ini cantumin nama author ato kalo nggak sumbernya aja yah. Tapi dilarang repost jg tanpa izin author. Thanks buat yg uda menghargai.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar