Selasa, 17 Mei 2011

[FANFICTION] JUST BECAUSE THE SEASONS "#1 GUARDIAN ANGEL?"

Author : only jetsskii




Categories : Series

Disclaimer : Just my imagination, enjoyed it!! My first ff posting! here! Inspirated by Ilana Tan (who wrote summer in seoul, autumn in paris etc). Saking kagumnya dengan novel karya Ilana Tan, saya sendiri merasa terinspirasi oleh ke empat musim yg dia jadikan inspirasi serta judul dari karya novelnya yg sangat digemari pembaca. Dan disini, saya mencoba membuat cerita dari ke 4 musm itu. Jalan ceritanya ASLI hasil jerih payah otak saya sendiri. Cerita ini hanya fiktif, saya hanya meminjam nama serta pengimajian peran yg saya ambil dari bintang Kpop.


Cast : All member B1A4 (Jinyoung as Jin, CNU as Woo, Sandeul as Hwan, Baro as Sun, and Gongchan as Chan), other cast (find it by your self :D )

“JUST BECAUSE THE SEASONS”
#1 “GUARDIAN ANGEL?”

Deg deg deg …
Jantungku berdegup kesekian kalinya ketika berjalan dipinggir-pinggir jurang yg curam ini. Sudah hampir 3 jam kami berkeliling menemukan jalan keluar dari hutan lebat yg tak sengaja kami masuki ini. Hari semakin gelap, penglihatan ku yg notabene minus atau memakai kacamata ini benar-benar berkurang. Aku dan ke 4 teman-temanku ini sedang berkemah dengan anggota karya tulis ilmiah di sekolah kami. Tapi entah kenapa, ketika kami mencari objek yg akan kami jadikan bahan karya tulis, kami tersesat begitu saja dari rombongan kami yg lainnya. Dengan hanya bermodalkan hoodie hitam bercorak biru pada lengannya, serta penutup kepala biru muda aku berjalan sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku kedinginan.






“Mwo? Apa itu?” aktivitas menggosok tangan pun ku hentikan seiring dengan hadirnya teriakan seorang dari temanku. Tangannya menunjuk sebuah lubang bertutupkan semak-semak kering yg hampir menutupi sepenuhnya.

“Apa itu tempat tinggal binatang? Atau malah itu gua?” Tanya seorang yg lain. Entah kenapa kakiku bergerak seakan tidak takut mendekati lubang bertutupkan semak-semak itu. Perlahan-lahan ku pindahkan dan ku taruh sembarangan semak itu di dekat kakiku. Kadang-kadang terinjak sehingga aku merasa kaget sendiri.

“apa yg kau lakukan,Hyo?” Tanya seseorang padaku. Aku hanya memberinya dengan isyarat “Syyuuuttt …” sambil menempelkan satu jari telunjuk pada bibirku. Ragu tapi pasti, ku bongkar semua semak itu sehingga terlihat lah sosok asli dari lubang itu.

“Ini gua.” Gumamku sambil terus menerawang ke dalamnya meskipun aku tahu pasti kalau itu sama sekali tak ada hasilnya alias tak terlihat. “Kita bisa tinggal sementara disini. Hari sudah gelap.” Aku tahu semua pasti terkejut dan heran dengan apa yg aku katakan mengenai tinggal sementara di gua ini. Tapi apa boleh buat, ini sudah hampir malam. Matahari hampir mengucapkan selamat tinggal dan bulan akan segera tiba.

“Kau yakin gua ini aman? Aku takut ada binatang buas di dalamnya!” sergah seorang temanku mencegahku masuk ke dalam gua itu.

“Sepertinya tidak.” Jawabku lurus meski sebenarnya ada ketakutan yg sama dalam benakku. Tapi entah kenapa sepertinya ada sesuatu yg menarik di dalam. Seakan menyuruh kaki serta pikiranku untuk masuk ke dalam, meski hatiku menolak mentah-mentah.

“baiklah, ayo kita masuk” ajak seseorag di sampingku. Kubungkukan setengah badanku memasuki lubang gua gelap itu. Sebelumnya ku nyalakan hp yg hanya dapat membantu kami memberikan cahaya ini. Sedikit mengendap dan saling berpegangan tangan meski risih sebenarnya, kami masuk lebih jauh. Sraaakk … seketika langkah kami terhenti. Ku sorotkan cahaya hp ku ke arah yg ku kira sebagai sumber suara.

“Sial, kenapa lubangnya tiba-tiba menghilang?” batinku. Tak ingin membuat teman-temanku panik, aku hanya memberi alasan bahwa mungkin angin membuat sesuatu bergerak. Semuanya meneruskan langkah sambil menengok kanan kiri. Tapi tidak denganku, mataku sesekali menengok ke belakang berharap aku salah lihat bahwa lubang itu masih ada dan tidak tertutup. Kini aku berjalan paling belakang tanpa berpegangan tangan dan tentu saja jika tersandung pun itu salahku.

Brruukk .. “Aww ..” ringisku sakit. Kakiku menyandung sesuatu. Tidak terlalu keras tapi membuatku kesakitan. “Aiisshh .. apa yg ku injak sebenarnya?” gumamku.

“Hyo, gwenchana?” tanya temanku.

“Ne ne .. gwenchana yunri-ah” jawabku saat aku tau bahwa suara temanku yunri lah yg bertanya. Seketika, kami sampai di ujung gua ini. Ternyata gua ini tidak memiliki jalan yg terlalu panjang, dan ternyata buntu. Ku lihat sekeliling sekali lagi dengan cahaya dari hp ku. Tak ada yg aneh, tapi kenapa perasaanku mengatakan sebaliknya. Ke 4 temanku yg lain sudah duduk lemas beralaskan batu-batu berukuran sedang yg ada di gua itu. Tapi ketika aku mulai mempersiapkan diriku untuk duduk,  Claakk .. sebuah cahaya remang datang dari balik celah batu besar di depan mataku sekarang. Srakkk .. sebuah sayap muncul di balik batu, dan sebuah tangan muncul sambil mencoba menggeser batu di hadapannya.

“Aaahh .. berat, kenapa setiap kali malam harus aku yg mendorong batu ini?” rutuk seseorang di depanku yg hanya berjarak 2 meter. Ku lihat teman- temanku menggigil ketakutan, begitupun dengan ku yg dengan susah payah menelan air ludah saking paniknya. “Mwo? Hyung .. lihat, ada makhluk lain selain kita!” seseorang yg memanggil temannya dengan sebutan hyung tu keluar dari belakang batu itu. Kulihat, ada sebuah ruang lagi di dalamnya. Orang itu, ah mungkin sebaiknya aku panggil dengan sebutan makhluk itu, karena sebenarnya aku sama sekali tak tahu makhluk apa yg sedang berada di depanku ini. Makhluk ini berjalan mendekat, tapi sepertinya terhenti pada jarak kami 1 meter. Ku lihat kakinya memakai rantai besi yg tersambung ke dalam ruangan itu. “Jangan takut padaku. Aku bukan pemakan manusia!” katanya terkekeh saat menyadari kami saling berpelukan ketakutan.

“Kalian .. kalian ini makhluk seperti apa?” tanyaku gugup, gemetar dan takut.

“Kami? Ah, hyung bisakah kau jelaskan pada mereka? Aku benar-benar tak tahu harus berbicara apa! Mereka wanita!” jawabnya sambil sesekali melirik ruang di balik batu itu.

Kumantapkan kakiku berdiri tanpa rasa takut, meskipun aku tahu jika ke 4 temanku berusaha membuatku duduk kembali. “Yaa jebal, diamlah!” kataku pada mereka. Seseorang mengikutiku berdiri dan diam disampingku. Kurasakan sedikit ketakutan dalam dirinya, tapi aku tahu dia sama penasarannya denganku. “Reeki-ah, kalau kau takut sebaiknya diam saja. Aku akan masuk ke ruang itu.” Bisikku.

“Gwenchana, aku ikut!” jawabnya tak kalah berbisik.

“baiklah ..” jawabku asal, lalu berjalan pelan menuju si makhluk yg tadi berbicara padaku itu. “Ya, sebenarnya kalian ini makhluk apa sih? Kulihat kau sama sekali tidak menakutkan.” Kataku sambil memandangi sosok di hadapanku dengan menyorot-nyorotkan cahaya hp ku pada wajahnya.

“Jangan sorot aku dengan cahaya itu! Arghh .. mataku silau! Aaahh hyung!!” katanya sambil berjalan mundur ke dalam ruangan itu dan aku mengikutinya, tentu saja dengan Reeki di belakangku. Dan tanpa sadar, ternyata  kami berlima masuk semua ke dalam ruang sempit di balik batu ini.

“Loh, kenapa kalian ikut” tanyaku heran. Mereka hanya cengar cengir sendiri dan sesekali menggaruk kepalanya padahal aku tahu kalau kepala mereka sama sekali tidak gatal. “ruang apa ini?” tanyaku. Dan alangkah kagetnya aku melihat 5 sosok aneh termasuk makhluk yg tadi dihadapanku. Ke tiga lainnya memiliki sayap yg sama dengan makhluk yg sempat berbincang denganku tadi, tapi berbeda dengan yg satu di pojok sana. Sayapnya terlihat lebih besar, berwarna hitam pekat dan satu lagi, ada luka di sayap kirinya. Makhluk apa sebenarnya mereka? Malaikat? Yg aku tau, dalam cerita dongeng, sayap malaikat itu putih bersih, sedangkan mereka, hitam dan bahkan hitam pekat. Atau mungkin mereka iblis? Tapi setahuku jg dalam dongeng, iblis itu tidak punya sayap, mereka hanya memiliki tanduk. Lalu, mereka itu makhluk apa?

“Duduklah! Tak usah takut! Benar kata Sun, kami tidak memakan daging manusia!” kata makhluk di samping seseorang yg dia panggil dengan Sun atau yg tadi berbicara sebelumnya kepadaku. Wajah nya lusuh, rambunya panjang diikat diatas namun tidak rapi. Mataya sipit namun tajam, giginya bertaring meski tak seperti drakula.

“Jangan bengong. Duduklah, aku benar-benar muak melihat kalian terus berdiri.” Kata makhluk yg berada di sebrang seseorang yg bernama Sun itu. Makhluk ini tak kalah lusuhnya dengan ke 2 orang yg telah lebih dulu berbicara padaku. Hanya saja, rambutnya sedikit kecoklatan yg membuat dirinya tampak sedikit lebih mencolok dibanding yg lain. Aku dan ke 4 temanku duduk di pojok ruang itu dengan perasaan yg masih takut, heran, dan penasaran. Ku pandangi ke lima makhluk aneh di hadapanku dengan tampang bertanya-tanya dan menyelidik. Di samping makhluk berambut kecoklatan ini masih ada makhluk yg persis sama seperti mereka bertiga. Hanya saja, dilihat dari wajahnya, dia tampak paling muda diantara yg lain. Kemudian pandanganku beralih pada sosok makhluk di pojok sana bersebrangan dengan tempat dudukku saat ini. Dari tadi dia tidak berbicara bahkan menunjukan wajahnya pun tidak. Dia duduk di sebuah kursi bak raja, hanya saja kakinya terikat rantai. Yah, sebenarnya ke 5 makhluk ini sama-sama diikat rantai. Yg lebih malang, hanya makhluk ini saja yg tangannya juga diikat rantai. Aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya karena dia menunduk dan poninya tergerai menutupi mukanya. Lagi-lagi aku bertanya, sebenarnya makhluk apa mereka ini?

“jadi, siapa yg akan mulai menjelaskan tentang semua ini?” tanyaku dengan tegas dan sedikit lega karena rasa takutku berkurang sedikit demi sedikit.

“Kau berani sekali! Sepertinya kau sudah tidak takut pada kami!” kata makhluk berambut kecoklatan ini. Aku memang merasakan bahwa perasaaku sudah tidak takut, begitupun dengan ke 4 temanku. Mereka duduk tenang disampingku tanpa ketakutan seperti tadi.

“Sudahlah, ayo cepat jelaskan!” jawabku seenaknya.

“Woo, kau saja yg bicara.” Kata makhluk berambut kecoklatan ini pada si rambut panjang.

“Baiklah! Hmm ... namaku Woo, ini Sun (menunjuk makhluk di sampingnya), itu Hwan (menunjuk makhluk berambut coklat), itu Chan (menunjuk makhluk di samping makhluk bernama Hwan), dan itu Jin (menunjuk seseorang yg duduk di kursi pojok)” jelasnya.

“Oke, lalu, kalian ini makhluk seperti apa?” tanyaku lagi tanpa rasa takut.

“Kami? Kami ... awalnya kami malaikat!” katanya. Ekspresi wajahnya berubah menjadih sedih, begitupun yg lainnya. “Kami dikutuk!” lanjutnya.

“Dikutuk?” celetuk Reeki.

“Iya. Dikutuk!” jawab yg bernama Woo ini. Aku dan reeki saling berpandangan. Kulihat ke 3 temanku yg lain pun ikut penasaran.

“Kenapa bisa?” tanya temanku yg bernama Jisun. Spontan mataku tertuju padanya yg sedang berbicara.

“Ini ... karena ...” kata-katanya terpotong seiring dengan suara gumaman makhluk yag disebut-sebut bernama Jin.

“Oh, kau sudah bangun, Hyung?” tanya makhluk bernama Hwan. Tanpa sadar aku memperhatikan wajah makhluk yg disebut bernama Jin itu sampai dia benar-benar menunjukan wajahnya 100% ini.

“Hmm ..” jawab Jin pada Hwan.

“teruskan!” pinta temanku Yujin.

“Apa?” mereka berlima menatap yujin bersamaan.

“Itu .. euu .. cerita kenapa kalian seperti ini.” Lanjut Yujin gugup sedikit takut.

“Baik. Jadi, sebenarnya yg harus menceritakan semua ini adalah Jin.” Jawab Woo kemudian menatap Jin.

“Apa?” tanya Jin dengan suara sedikit parau. Deg ... mendengar suara Jin jantungku berdegup kencang dengan sendirinya. Mungkin ini karena kaget mendengar suara makhluk itu. Tapi, melihatnya berbicara malah membuat mataku terpaku padanya. Matanya yg kecil terlihat masih mengantuk. Bibirnya yg tipis terlihat pucat, wajahnya yg putih pun membuat dia terlihat sangat lusuh, terlebih rambutnya yg berantakan dan tak terurus membuat di terlihat seperti errr .. monster mungkin.

“Siapa mereka? Manusia?” tanyanya lagi. Semakin dia bicara, jantungku berdegup semakin kencang. Apa-apaan ini. Apa yg membuatku begitu takut? Ini perasaan takut kah??

“Iya. Mereka manusia. Mereka tak punya sayap seperti kita dan tak punya tanduk seperti iblis.” Kali ini giliran makhluk yg bernama Chan lah yg menjawab.

“Apa yg ha .. ruuss .. aa kku cerita .. kan?” katanya berubah lambat setalah mata kami saling bertemu. Dan sekarang, kenapa dia berubah menatapku lekat-lekat. Seakan bertanya “dia?” tapi kenapa perasaan ku berkata kalau kami memang dekat. Apa? Apa ini?

“Heeuuhh ..” dia menghembuskan napas sedikit keras. “Aku ingin jadi manusia. Dan karena itu aku dikutuk. Karena mereka membantuku, mereka juga dikutuk. Puas? Selesai, aku sudah menceritakannya, jadi kalian biasa pergi!” katanya ketus.

“APA? Pergi?” kataku setengah berteriak. “kau pikir kami ingin berlama-lama disini? Heuh, tempat ini memuakkan. Aku jg tidak betah. Dan kalau bukan karena lubang gua ini tertutup, mungkin aku sudah pergi. Me-nger-ti?” entah kenapa rasanya aku panas mendengarnya berkata ketus seperti itu. Dan itu membuat tekanan darah ku naik. Sehingga sedikit terdengar penekanan dalam kata-kataku.

“Tertutup???” ke 4 temanku pun spontan terbelalak kaget mendengarnya.

“I.. I ya .. begitulah” kataku gugup menjawab pertanyaan ke 4 teman-temanku.

“Apa jangan-jangan .. ah ini hari ke 7 ya?” tanya Hwan.

“Memangnya ada apa dengan hari ke 7?” tanyaku kaget.

“Iya. Apa hubungannya dengan hari ke 7?” tanya Reeki tak kalah penasaran.

“Ah, pantas kalian bisa masuk. Di hari ke tujuh ini, lubang ini akan terbuka selama 3 jam dari saat matahari hampir tenggelam hingga matahari benar-benar tenggelam. Dan ...” kata Hwan terputus lalu menghela napas. “Dan .. hanya akan terbuka di hari ke tujuh lagi.” Lanjutnya.

“Apa??” sontak aku sedikit berteriak membuat semua yg ada di ruang itu menatapku kaget. “jadi kami harus diam disini selama 1 minggu? Ah yg benar saja!!” lanjutku sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

“Tenanglah, kami bantu mencari jalan keluar!” kata Woo santai. Tapi aku sama sekali tak menggubrisnya. Aku hanya fokus pada pikiranku sendiri.

“Tidurlah! Bukankah manusia harus tidur jika malam!” tiba-tiba saja suara Jin memecah pikiranku. Sontak aku menatapnya heran. Begitu pun ke 4 temanku.

“Baiklah!” jawabku sambil memberi isyarat pada ke 4 temanku agar mereka ikut tidur.
----------------------------
*Jin’s POV*

“gadis itu? Apa dia seseorang yg aku kenal?” batinku. “Tidak!! Dia terlalu muda untuk ku sangka sebagai manusia ku!” lagi-lagi batin dan pikiranku berseteru.

“Mereka kelelahan! Mereka tertidur dengan cepat!” jelas Woo samar-samar di telingaku. Kutatap sekali lagi wajah gadis itu. Ya, kutatap dari kejauhan. Meski pun keadaanku seperti ini, tapi mataku masih tetap tajam seperti saat aku masih menjadi malaikat. Breett .. “Aarrgghh ..” ringisku memegang dada. Rasanya tiba-tiba dadaku sakit.

“Waeyo, Hyung?” tanya Chan khawatir.

“Gwenchana!” jawabku singkat tapi pasti. Apa ini? Kenapa naluri ini muncul kembali setelah selama 100 tahun belakangan ini hilang. Kutatap wajah gadis itu berulang kali. Dan sekarang aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Denyut jantungnya, bahkan, aku .. aku tau mimpinya. Apa? Apa aku kembali menjadi malaikat? Tapi tak ada yg berubah dari tubuhku. Hanya naluriku saja yg tiba-tiba begini.

*Jin’s POV end*
----------------------------
“Hooaaam ...” aku terbangun ari mimpiku. Sepertinya seseorang mengusik pikiranku. Tapi siapa? Apa? Ini benar-benar membuatku tak bisa tidur. Ku pandangi sekitarku. Mereka sama sekali tidak melakukan aktivitas. Tidak bergerak dan tidak tidur. Hanya diam.

“Aku mau pipis!” kata Reeki di sebelah ku.  Sejak tadi dia memang sudah mengigau ingin pipis. Mungkin kah dia pipis di celana? Ah bocah ini benar-benar membuatku ingin tertawa. “dimana kamar mandi?” tanyanya pada makhluk berambut kecoklatan yg kukira itu adalah Hwan.

“Apa? Kamar mandi? Disini tak ada kamar mandi. Kami tidak pernah pipis. Bahkan makan pun tidak.” Jelas Hwan.

“MWO??” reeki terbelalak. “Jadi aku harus pipis di celana? Yaaa!! Otteokehh??” tanyanya padaku. Aku hanya mengangkat bahuku tak tahu dan melanjutkan pikiranku yg hendak terputus tadi.

“Cobalah pakai!” kata Jin memberi isyarat yg sama sekali tak aku ketahui.

“Pakai??” tanya Hwan seakan meragukan. “Apa bisa?” tanyanya lagi mencoba memastikan. Jin hanya diam tak menjawab. Tapi itu cukup membuat Hwan mencoba melakukan apa yg dia katakan. “baiklah, aku coba!” katanya ragu tapi berusaha memantapkan hatinya. “Boom ..” itulah yg Hwan katakan sebelum dia menyulap dinding batu gua itu menjadi kamar mandi tingkat VIP yg seperti di hotel-hotel bintang 5. “bekerja?” katanya lagi seakan belum percaya dengan apa yg dia lakukan. “Hyung, kenapa bisa seperti ini?” tanyanya sambil tersenyum gembira pada Jin.

“Aku tahu.” Hanya itu yg jin katakan, tapi mampu membuat Hwan tersenyum berlipat-lipat ganda dari sebelumnya. Reeki keluar dari kamar mandi bergaya VIP itu sambil tersenyum lega. “Bruukk ..” senyumannya memudar setelah sesuatu menyandungnya daaann ...

“YAAAA!!! Kau!! Isshhh .. kau benar-benar membuatku marah!” katanya membuat semua penghuni gua itu terbangun dari alam mimpi dan alam lamunan. “baru saja aku ingin berterima kasih tapi kau malah membuatku terjatuh! Dasar namja sialan!” ucap nya sekenanya.

“Apa? Aku tak sengaja bodoh!! Matamu saja yg tak berguna! Kenapa sampai tidak bisa melihat kakiku, sudah tau kakiku terikat rantai, tak mungkin bisa bergeser!” jelas Hwan panjang lebar dengan sedikit emosi.

“Kau .. arrgghh!!” bentak reeki sekali lagi sambil memperlihatkan kepalan tangannya lalu kembali ke tempat semula ia tertidur.


“Dasar manusia aneh!” gumam Hwan yg sempat terdengar oleh ku. Keadaan berubah menjadi hening kembali. Para malaikat terkutuk itu melanjutkan lamunannya sedangkan ke 3 temanku melanjutkan kembali mimpinya kecuali Yujin. Dia asyik berkutat dengan PSP yg baru saja kemarin dia beli dengan hasil jerih payah tidak menjajankan uang bekalnya selama 4 bulan berturut-turut. Suara pencetan tombol yg dia tekan asyik bergema di dalam gua.

“Hey wanita! Bisakah kau mematikan hp mu! Itu berisik!” caci Sun yg memang duduk terpaut 2 meter dari Yujin.

“Aku punya nama bodoh! Dan namaku Lee Yujin!! Setidaknya kau bisa sopan sedikit menegurku! Satu lagi, ini PSP bukan HP!!” jawab Yujin tanpa sedikitpun menolehkan matanya dari PSP nya itu.

“Inilah kenapa aku tak suka wanita dan manusia! Mereka cerewet dan menyebalkan!” gumam Sun.

“Ya .., aku dengar itu!” balas Yujin santai.

“Issshhh ... wanita ini!!!” erang Sun sambil mengepalkan tangannya kesal.

1 jam berlalu, tapi aku masih belum bisa memejamkan mataku. Begitupun Yujin yg masih sibuk dengan PSP nya.

“Ya! Sudah 1 jam kau bermain. Bisakah kau diam sekarang!” pinta Sun sedikit memaksa.

“Hey makhluk jelek. Aku sedang bosan, jadi jangan ganggu aku, atau kau akan menyesal!!” bentak Yujin.

“Ka .. kau!!!” kata Sun menahan amarahnya kemudian diam dengan mulut setengah mengumpat.
----------------------------
*Sun’s POV*

“Apa-apaan wanita ini! Isshh ... inilah kenapa dari dulu aku tak mau menjadi guardian angel!!” gumamku tentunya dengan nada yg tak akan bisa didengar oleh wanita itu. Tapi entah kenapa lama-lama aku menjadi penasaran dengan barang abad ini yg dia namai dengan sebuatan PSP ini. Sedikit-sedikit ku dekatkan tubuhku ke posisi dimana wanita itu duduk sekarang. Perlahan tapi pasti, aku sudah dekat dengan tempatnya sekarang. Ku posisikan kepalaku ke depan sehingga mataku dapan melihat dengan pasti apa yg dia pegang. Tapi ... pletak .. sebuah pukulan mendarat di kepalaku dengan mulus. “ya! Apaso!!” kataku sambil mengusap-usap daerah yg terkena pukulan itu. Dia hanya melotot ke arahku. Dan .. kini aku tersadar bahwa jarak ku dan dia hanya 30 cm. Ini rekor terbesarku dekat dengan wanita!! Sontak aku terkaget dan mundur ke belakang. Deg ... kenapa jantungku berdetak cepat??

*Sun’s POV end*
--------------------------
Sudah 4 hari kami tinggal dalam gua itu. Kami semakin dekat dengan makhluk-makhluk yg menamakan diri mereka sendiri sebagai Lucifer. Kekuatan mereka hampir pulih, tapi tidak dengan keadaan fisik mereka. Sama sekali tak berubah. Tapi itu bagus, karena jika kekuatan mereka tak kembali mungkin kami sudah mati kelaparan. Sekarang sudah siang. Inilah kebiasaan aneh mereka. Tidur di siang hari, tapi terbangun di malam hari. Benar-benar seperti hantu. Bahkan 2 hari belakangan ini kami ber 5 ikut masuk kedalam kebiasaan mereka. Alhasil, siang ini kami tertidur pulas. Ralat, mereka ber 9. Tapi aku sama sekali tak ada nafsu untuk tidur. Aku benar-benar muak di dalam gua ini. Aku ingin keluar. Tapi bagaimana aku harus menemukan jalan keluarnya? Sejenak aku berpikir tapi malah keterputus asaan yg datang. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat dimana biasanya aku tertidur. Tapi .. ada yg aneh. Chan dan Jisun tidur berdampingan kali ini. Yah mungkin karena sejak kemarin mereka asyik bercanda berdua. Yunri seperti biasa tertidur di pojok berdampingan dengan Yujin, tapi .. tunggu! Sun? Sekarang dia berani berdekatan dengan Yujin alam jarak sedekat itu? 1 meter? Woow ... itu luar biasa. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging dibibirku melihat tingkah mereka. Tunggu, satu lagi. Apa yg terjadi dengan kucing dan anjing yg biasanya bertengkar dan sekarang mereka tidur berdampingan, bahkan kepala Reeki tergeletak manis di bahu kanan milik Hwan. “Ajaib” batinku. Kini aku merasakan keheningan yg benar-benar menusuk. Hawa dingin menyeringai tubuhku. “ini siang, kenapa dingin?” batinku.

“Shh ..” sebuah suara terdengar samar ditelingaku. Kutolehkan kepalaku ke daerah yg kukira adalah sumbernya suara.

“Jin?” gumamku. Kuberanikan diriku untuk mendekat ketempatnya duduk di kursi bak raja itu. Dan ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di perbatasan manusia boleh mendekat ke tempat duduk jin. Karena selama ini, hanya teman-temannya sesama lucifer lah yg boleh menginjak daerah itu. Deg ... jantungku berdegup takut saat satu langkah kakiku memasuki daerah itu. Entah apa yg dipikiranku saat itu hingga aku benar-benar berani melangkahkan kaki ku ke daerah itu. Dan sekarang aku benar-benar telah berada di depan tubuh Jin yg tengah tertidur sambil menunduk. Ku sentuh tangannya dan .. alangkah kagetnya ketika ku rasakan tubuhnya panas. Apa mungkin dia demam? Tapi mustahil untuk seorang ‘bekas’ malaikat seperti dia bisa merasakan demam.

“Err ..” gumamnya lagi saat aku akan menyentuh tangannya untuk kedua kali. Sekarang kepalanya sudah tidak menunduk lagi, bahkan sekarang aku dapat melihat mukanya dengan jelas. Tapi ... airmata tiba-tiba jatuh di sudut matanya. Entah kenapa aku merasakan kesedihan yg sama seperti yg dialami Jin, tapi aku sama sekali tak menangis. “ini apa?” batinku saat melihat bercak luka pada sayap sebelh kiri Jin. Ragu-ragu kusentuh sayapnya. Wooouuuusssss ... tiba-tiba cahaya menyambar luka yg ku sentuh. Sedikit asap terlihat dari luka itu. Lama-lama luka itu menutup dan tak ada noda sedikit pun di sayap milik Jin. Suara cahaya itu membangunkan semua penghuni gua. Begitu pun dengan Jin yg terbelalak kaget melihat wajahku tepat berada di depan mukanya yg berjarak 1 meter.

“Kenapa kau? Ah, apa yg terjadi?” tanyanya gugup. Entah bodoh, linglung atau sadar tak sadar, kuhapus air mata yg tepat akan jatuh dari sudut mata jin dengan tangan ku. Sontak itu membuat jin kaget dan aku pun ikut kaget.

“Mianhae .., tadi kau mengingau, jadi ... ehm .. aku khawatir .. ehm  ... yah begitulah!” jawabku sekenanya. Jin hanya diam dan menatapku heran sampai dia baru sadar kalau sayapnya sudah sembuh dari luka.

“Hyung, lukamu? Sudah 100 tahun tidak sembuh, dan sekarang hilang dalam sekejap!” kata Sun takjub.

“100 tahun?” tanyaku kaget karena baru tahu kenyataan selama ini bahwa mereka telah hidup selama 1 abad. Jin hanya diam. Tak menjawabku atau pun Sun. Dia diam menunduk sambil sesekali mengerutkan dahi bingung. Aku yg telah kembali duduk di tempatku jg merasa heran. Kenapa aku merasa ada yg aneh dengan Jin dan aku.
---------------------------
*Jin’s POV*

“mimpi itu nyata?” tanya ku dalam hati. Sebenarnya apa yg terjadi? Tiba-tiba kekuatan kami kembali. Dan sekarang lukaku sembuh. Lalu tadi aku bermimpi, aku menemukan manusiaku kembali. “apa artinya?” tanpa sadar aku bergumam sendiri. Aku tahu gadis itu memperhatikanku sejak tadi, tapi aku sama sekali tak ingin menghiraukannya. Ini membuatku muak.

*Jin’s POV end*
---------------------------
Besok hari ke 7. Itu tandanya aku akan segera pulang. Ya tapi kenapa begitu berat ketika aku memikirkan akan pulang. Jangan bodoh, tak mungkin aku ingin tinggal selama nya bersama ke 5 makhluk aneh ini. Memikirkannya saja aku tak sanggup.

“Malam ini purnama!” seru Chan gembira.

“Lalu kenapa?” tanya Jisun di sebelahnya.

“Rahasia, lihat saja nanti Nuna!” jawab Chan sambil tersenyum nakal. Spontan aku pun ikut tersenyum. Lagi-lagi mataku tertuju pada Jin yg sedang memandangi lubang kecil di atas atap batu gua ini. Sontak aku pun mengarahkan mataku mengikuti kemana arah matanya. Dari sisi manapun, jika melihat kelubang itu, maka bulan akan terlihat sangat jelas. Dan aku yakin, cahaya akan masuk ke dalam gua dengan sempurna. “lalu kenapa?” batinku. Tapi tak ada satu dari mereka yg menyadari keheranan serta rasa penasaranku ini.

“30 detik lagi” gumam Woo. Spontan aku menatap lubang itu lagi. “lalu apa yg akan terjadi?” batinku.
29 detik berlalu. Dan sreeeettt ... cahaya putih kekuningan milik bulan muncul melintasi lubang itu. Crakk ... semua berubah menjadi silau. Aku tak dapat melihat apapun. Semua putih. Hanya persaanku saja atau memang benar gua ini berubah menjadi ruangan seperti kamar yg dipenuhi banyak kaca.

“Chan?” tanya Jisun sambil fokus pada sosok berbaju putih di sebelah kanan kami. Spontan aku mengikuti kemana matanya mengarah. Dan begitu kagetnya aku melihat sosok bocah 18 tahun didepan kami dengan rambut hitam berponi dan tertata rapi tersenyum menatap kami.

“Sun?” kata yujin setengah berteriak sambil menutup mulutnya denga kedua tangan takjub. Sosok laki-laki pecicilan yg takut akan wanita dan manusia kini tengah berdiri tegap, tersenyum dan bersinar.

“Apa ini?” tanyaku sambil terpaku melihat sosok ketiga yg muncul. Hwan yg lusuh dan kusuh 7 hari yg lalu, berubah menjadi sosok yg berwibawa, tampan dan sangat menarik. Bahkan temanku pun tidak bisa mengindahka matanya dari sosok pria tanpa sayap itu. Tunggu!! Tanpa Sayap??? Jadi sekarang mereka itu apa?

“Woo?” gumamku takjub saat melihat sosok pria didepanku dengan rambut pendek hitam rapi tapi masih dengan gigi taringnya yg memukau. Seketika cahaya mereka meredup tapi tetap tidak mengindahkan daya tarik mereka dari mata kami. Entah apa yg tiba-tiba membuatku ingat akan makhluk itu, tapi aku baru sadar dia tidak ada. “ Mana Jin?” batinku.

“Aku disini!” ucap seseorang dibelakangku. Kaget bercampur tak percaya. Dia muncul di belakangku dengan pakaian putih, rambut tertata rapi dan bibirnya yg merona merah menandakan di benar-benar terlihat sehat saat itu. Tapi, apa dia bisa membaca pikiranku. “Tak mungkin” batinku.

“Mungkin saja!” jawabnya tersenyum.


“Kau, membaca pikiranku?” tanyaku takjub.

“Mungkin. Karena kau manusiaku!” jawabnya.

“Apa? Manusia .. manusia mu? Maksudmu?” tanyaku tak percaya.

“100 tahun yg lalu, aku adalah seorang guardian angel dari seorang gadis bernama Yang AeRin ..! nenek moyangmu! Dari situ aku jatuh cinta padanya. Aku .. aku ingin menjadi manusia karena dia. Aku berusaha membujuk dewa langit agar aku menjadi manusia. Aku juga dibantu ke 4 saudaraku dan seorang dewa. Tapi ternyata aku salah percaya pada dewa itu. Dewa yg membantuku malah membuatku menjadi jelek di mata dewa langit. Dan akhirnya dia mengutuku menjadi iblis. Tapi karena tidak sepenuhnya aku bersalah, maka kutukaku hanya sampai menjadi malaikat berwajah iblis saja. Hahaha ...” ucapnya panjang lebar. Tawa nya terhenti saat menyadari bahwa aku masih dalam keadaan shock bercampur bingung.

“lalu apa hubungan semua ini dengan ku?” tanyaku.

“Pertanyaan yg bagus.” Katanya. “kau ... reinkarnasi dari yang aerin. Karena kau lah, kekuatanku bisa kembali!” jawabnya dan tetap membuatku tidak mengerti.


“Tapi aku tetap tidak mengerti, Jin!” kataku setengah menangis. Entah kenapa aku ingin menangis mendengarnya. Jin hanya diam. Dia sama sekali tak berkata atau pun tersenyum. Matanya tetap menatap mataku. Jantungku berdegup kencang. Takut, gelisah, dan galau!!!

“kau menghidupkannya kembali, Yang Jihyo.” Katanya datar. “yang jihyo? Sejak kapan dia tau nama panjangku. Bahkan dia hanya tau namaku itu Hyo.” Batinku. Jin hanya tersenyum.

“Hidup? Apa nya yg hidup?” tanyaku semaki frustasi.

“Keinginanku menjadi manusia Yang Jihyo!!!” jawabnya setengah berteriak.

“Kenapa aku?” tanyaku lagi. Tapi dia sama sekali tidak menjawab. Dia hanya bergerak maju mendekatiku, lalu mengecup keningku. Kaget, heran tapi aku senang mendapat perlakuannya.

“gomawo, karena kau, aku bisa jadi manusia!” ucapnya sambil tersenyum. Aku melihat sekeliling. Ke 4 pria itu tersenyum dengan cara yg sama kepadaku. Ku pandang ke 4 temanku heran. Jadi apa sebenarnya semua ini? Dan Jin memelukku dengan erat, hingga aku terhanyut didalamnya.
------------------------------
*Hwan’s POV*

“Jin hyung melakukannya dengan baik” batinku. “Sekarang aku jg harus mengatakannya pada manusiaku.” Sekali lagi aku berkata pada hatiku. Selagi jin sedang memeluk Hyo, dan itu mengalihkan pandangan semua orang, aku mengajak reeki menepi dari pusat perhatian. Aku juga ingin mengutip perkataan jin hyung, tapi itu sama sekali tidak kreatif. Jadi aku akan mengatakannya hanya dengan 3 kalimat, dan 1 lagi adalah ... hmm ...

“Reeki .., kau manusiaku!” 1 kalimat telah ku lontarkan.

“Apa? Kau ingin menipuku? Hah, atau hanya mengutip jin?” ledeknya tapi sama sekali tak ku gubris.

“Berkat kau aku ingin menjadi manusia.” Ini kalimat ke dua yg aku sampaikan.

“Kau bodoh atau tidak mengerti bahasa manusia? Cepat jawab pertanyaanku sebelumnya.” Lagi-lagi dia hanya mengejek dan aku tak ingin menggubrisnya.

“Dan aku ingin terus disampingmu.” Ini kaliamt terakhir yg kusampaikan.

“Oke, jangan bercanda. Kau ini benar-benar bodoh atau ..mpphh ..” ini 1 lagi yg aku bicarakan. Aku menciumnya. Ah, gadis ini terlalu banyak bicara. Tapi aku menyukainya, karena dia lah aku merasakan keinginan yg sama seprti jin hyung. Keinginan menjadi manusia dan mendampinginya.

*Hwan’s POV end*
-----------------------------
*Chan’sPOV*

“romantis” batinku melihat Jin Hyung sedang memeluk manusianya. “aku jg ingin nuna tau!” batinku lagi. “Nuna …” panggilku pada seorang gadis yg sebenarnya berumur sama denganku ah maksudku terlihat berumur sama karena usiaku sebenarnya sudah melebihi 1 abad, tapi entah kenapa aku memanggilnya nuna.
“Wae?” jawabnya manis.

“Jadilah manusiaku!!” tanyaku.

“Naega? Ah jinca yo?” jawabnya kaget.

“Geuromyeom. Jadilah manusiaku.” Kata-kata terakhir yg kuucapkan lalu aku memeluknya.

*Chan’s POV end*
-------------------------------
Jin melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arahku. Ku balas senyumnya meski sebenarnya masih ada perasaan heran dan aneh yg menyelimuti pikiran serta hatiku. “jadi, kalian telah menjadi manusia?” tanyaku.

“Hampir!” jawab jin sambil tetap tersenyum.

“Hanya saja mungkin hanya kalian ber 4!” kata Woo membuatku kembali heran.

“Wae gerae?” tanyaku.

“Karena hanya kami ber 4 yg menemukan manusia kami!” jawab Jin sedikit melirik Woo sedih.

“Jelaskan. Siapa saja manusia itu!” sekarang giliran Yujin berbicara setelah tadi dia menutup mulutnya kaget melihat sosok Sun dihadapannya.

“Aku-Jihyo” sambil menyentuh tanganku. dan sontak aku kaget menatapnya. “Chan-Jisun, Hwan-Reeki, dan Sun .. kau!!” jawab Jin dan tersenyum kembali menatapku.

“Naega?” kata Yujin kaget kemudian menatap lekat-lekat wajah Sun. dan Sun hanya menjawabnya dengan senyuman. Suasananya benar-benar menmbuatku nyaman, dan pria dihadapanku inilah yg telah membuat perasaanku sekarang benar-benar senang. Tapi, tiba-tiba cahaya kembali muncul di tubuh mereka. Jin menjauh sambil tersenyum tentu saja ke 4 yg lainnya pun ikut bercahaya.

“Aku akan kembali” katanya padaku sambil tersenyum. Dan breettt … semua menjadi gelap dan aku tak sadarkan diri.
---------------------------
Jihyo’s house, 07.30

“Hyo!!! Ireona! Hyo! Palli ireona!” teriak seseorang diluar kamar.

“Ne ahjumma! Ara ara!” jawabku dengan mata masih tertutup. “Mwo? Ehm mimpi apa aku semalam? Ah aku benar-benar lupa.” Gumamku sambil beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. “Awww … sejak kapan kakiku sakit? Arrgghh jangan-jangan aku tidur sambil berjalan!!” rutuk ku kesal denga kakiku yg sakit.

Selesai berpakaian, aku bergegas berangkat menuju kampusku pagi ini. Ya, tentu aku harus berjalan kaki dengan jarak yg cukup jauh untuk bisa mencapai halte bus. Tapi gerak langkah kakiku terhenti saat aku menyadari bahwa seseorang mengikutiku. Ah apa mungkin hanya perasaanku saja. Ku percepat langkahku dan sampai di halte bus. Ternyata benar, seorang pria mengikutiku. Dari kejauhan bias kulihat dia berjalan menuju halte. Tapi untunglah  bus datang, dan dia sama sekali tak menikutiku sampai bus. (Next story -> Lovely Winter)
---------------------------
Reeki’s house 07.30 *Reeki’s POV*

“Apa-apaan ini. Aku tidur sampai pukul 07.30. untung saja hari ini di sekolah sedang bazaar, jadi aku tidak terlambat!” rutukku kesal. Setelah mandi dan bersiap pergi, aku pamit dan melesat dengan kedua kakiku berlari mengejar bus terakhir di pagi ini. “jangan sampai aku terlambat” gumamku di sela-sela lari. Tepat sekali, saat aku sampai, bus pun datang. “Ow, my lucky day!” batinku tersenyum. Ku langkahkan kakiku ke dalam bus yg terlahat hampir penuh. Tanpa ragu ku masukan tiga buah koin pada kotak di depanku, kemudian kupandang sekelilingku dan menemukan tempat duduk startegis agar perjalananku terasa nyaman. Lamunan demi lamunan membuatku terhanyut sampai tersentak dengan apa yg aku fikirkan sendiri. “Loh, aku mimpi apa semalam? Ah tapi rasanya itu seperti nyata!!” gumamku. Dan tak terasa bus ku sudah sampai di depan halte pinggir sekolahku. “Ramai!!” rutukku kesal. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. “Nugu?” tanyaku. Dia hanya membalas dengan senyuman. Tapi entah kenapa rasanya aku mengenalnya dekat sekali. (Next Story -> Slowly love that sping)

*Reeki’s POV end*
----------------------------
Jisun’s university 13.00 *Jisun’s POV*

“Arrgghh murid baru itu kenapa selalu memperhatikanku?” batinku. Bukannya aku terlalu percaya diri ataupun apa, tapi bocah itu sama sekali tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Sebenarnya siapa dia? Yg ku tau dia hanya mahasiswa baru dan itu sudah cukup. Lama-lama bocah ini bisa membawa masalah bagiku. Baru beberapa jam saja dia di kelas, fans nya sudah banyak. Tapi kenapa sepertinya dia tak asing bagiku! Jadi, siapa dia? (Next Story -> Autumn unforgettable)

*Jisun’s POV end*
----------------------------
Yujin’s School *Yujin’s POV*

Ku percepat langkahku menuju halte, dan lagi-lagi namja bertopi itu mengikutiku. Jantungku semakin berdegup kencang seiring dengan bergerak cepatnya langkah kakiku.

“Lee Yujin!!” panggilnya. Tapi aku sama sekali tidak menoleh dan malah mempercepat kakiku. Entahlah, tapi kenapa dia tahu namaku? Dan kenapa style nya membuatku ingat pada seseorang. Tapi siapa? (Next Story -> My Summer boy)

*Yujin’s POV end*


To be continued ...

See you next --> #2 "Lovely Winter"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar